Minggu, 26 Juni 2016
HUMANISTIK
Nama : Yulsafa Tifanny Putri
Kelas : 3PA06
Mata Pelajaran :
Psikoterapi
TEORI
TERAPI HUMANISTIK
Istilah
psikologi humanistik (humanistic
psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal
tahun 1960an bekerja sama dibawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif
dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam
psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalan psikoanalisis dan behaviorisme.
Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).
Terapi
eksistensial berpacu pada bahwa manusia tidak bisa lepas dari kebebasan dan
bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan
eksistensial humanistik mengutamakan pada filosofis yang melandasi terapi.
Pendekatan atau teori eksistensial humanistik yang menyajikan suatu landasan
filosofis bagi orang berhubungan dengan sesame, kebutuhan yang unik dan menjadi
tujuan konselingnya.
Konsep utama
dari teori humanistik eksistensial itu ada tiga hal yang pertama kesadaran diri
yang dimana manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu
kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berfikir dan
memutuskan, semakin kuat kesadaran diri seseorang, maka akan semakin besar pula
kebebasan yang ada pada orang itu, kesadaran untuk memilih alternative-alternatif
itu memutuskan secara besar dalam batasannya, kebebasan memilih dan bertindak
itu disertai tanggung jawab, manusia bertanggung jawab atas keberadaannya dan
nasibnya. Yang kedua ada kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan yang dimana
kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang
menjadi atribut dasar pada manusia. Lalu ada penciptaan makna yang diartikan
manusia itu unik yang dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan
hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.
Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesama dalam suatu cara
yang bermakna, karena manusia adalah makhluk rasional.
KASUS
“Kesulitan
penyesuaian diri mahasiswa “S” dalam kehidupan kampus”
S berusia 22 tahun,
mahasiswi tingkat 1 mengalami ancaman DO. Dari hasil evaluasi 7 minggu pertama
ternyata nilai dari semua mata kuliah yang diambilnya tidak memenuhi
persyaratan lulus ke tingkat 2. PA memberitahu hal ini dengan tujuan dia bisa
mengejar nilainya, dengan belajar yang lebih aktif agar tidak terancam DO. Dari
hasil evaluasi 4 mata kuliahnya, S memperoleh 2 nilai C dan 2 nilai D. dia
sangat menyadari bahwa dia akan sulit untuk mendapat nilai yang baik untuk
kedua mata kuliahnya tersebut. Kenyataannya ini membuat S merasa sangat stress,
sehingga kadang dia merasa ingin bunuh diri, karena merasa takut gagal.
Dalam pergaulan
dengan teman-temannya S selalu merasa minder. Ketika kuliah dikelas besar, dia
selalu memilih duduk di barisan yang paling belakang dan dia jarang bergaul
dengan teman-teman seangkatannya. Dia selalu merasa dirinya kuno, karena
menurutnya S selalu berpakaian yang tidak fashionable.
Akibatnya S selalu menyendiri dan lebih senang berada di perpustakaan
daripada bergaul dengan teman-temannya. S lebih nyaman ketika masih duduk
dibangku SMA, dimana kelasnya lebih kecil dan hubungan di antara siswa di
rasakannya lebih akrab.
S, merupakan
anak ke2 dari dua bersaudara(keduanya wanita). Kakaknya berusia 2 tahun lebih
tua darinya, dan mempunyai prestasi akademis yang cukup “cemerlang” di fakultas
yang sama. Walaupun orangtua tidak pernah membandingkan kemampuan ke dua
anaknya, tetapi S merasa bahwa kakaknya mempunyai kelebihan di segala bidang di
bandingkan dengan dirinya.
ANALISA
Menurut aliran humanistik eksistensial kasus S bukan
hanya sekedar masalah yang bersifat individual, tetapi juga merupakan hasil
konflik anatara individu dengan masyarakat atau lingkungan sosialnya. Jika S
melihat perbedaan yang sangat luas antara perbandingannya tentang dirinya
sendiri dengan yang diinginkannya maka akan muncul perasaan inadekuat dalam
menghadapi tantangan di kehidupan ini, dan hal ini menghasilkan kecemasan atau anxity. Jadi, menurut pandangan
humanistik eksistensialis kasus “S” terletak pada konsep diri yang terjadi
sehubungan dengan adanya gap antara konsep diri yang sesungguhnya (real self) dengan diri yang diinginkan (ideal self). Hal ini muncul sehubungan
dengan tidak adanya kesempatan bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya
sehingga perkembangannya menjadi terhalang. Akibatnya, dalam menghadapi
tantangan atau kendala dalam menjalani hari-hari dikehidupan selanjutnya, ia
akan mengalami kesulitan untuk membentuk konsep diri yang positif.
Menurut teori humanistik eksistensial yang melihat
kasus “S” sebagai hasil konflik diri yang terkait dengan keadaan sosial dimana
pengembangan diri menjadi terhambat, maka teori ini lebih menyarankan untuk
membangun kembali diri yang rusak (damaged
self). Tekniknya sering disebut sebagai client
centered therapy yang berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemampuan
yang positif yang berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang
positif yang dapat dikembangkan sehingga ia membutuhkan situasi yang kondusif
untuk mengeksplorasi dirinya semaksimal mungkin.
Setiap permasalahan yang dialami oleh setiap
individu sebenernya hanya dirinyalah yang paling mengerti tentang apa yang
sedang dihadapinya. Oleh karena itu, “S” sendirilah yang paling berperan dalam
menyelesaikan permasalahan yang mengganggu dirinya. Karena menurut pandangan
teori ini, sebagai hasil dari belajar (belajar menjadi cemas) maka untuk
menanganinya perlu ditakukan pembelajaran ulang agar terbentuk pola perilaku
baru. Teknik yang digunakan adalah systematic
desentisitization, yaitu mengurangi kecemasan dengan menggunakan konsep
hirarki ketakutan, menghilangkan ketakutan secara perlahan-lahan mulai dari
ketakutan yang sederhana sampai ke hal-hal yang lebih kompleks. Pemberian reinforcement (penguat) juga dapat
digunakan dengan secara tepat memberikan variasi yang tepat antara pemberian reward (jika ia memperlihatkan perilaku
yang mengarah keperubahan) ataupun punishment
(jika tidak ada perubahan perilaku atau justru menampilkan perilaku yang
bertolak belakang dengan rencana perubahan perilaku).
DAFTAR PUSTAKA
Corey Gerald. 2009. Teori dan praktek konseling dan psikoterapi.
Bandung: PT. Rafika
Aditama.
Misiak, Henryk. 2005. Psikologi fenomenologi, eksistensial dan
humanistic. Bandung: PT
Rafika Aditama.
Minggu, 10 Januari 2016
JOB SATISFACTION (Kepuasan Kerja)
Kelompok 7 ( Anggur ) :
Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
Aulia Syarafina (17511941)
Gina Permatasari ( 13513737 )
Sinta Parwati ( 18513504 )
Yulsafa Tifanny ( 19513585 )
Muhamad Nurdin Junaedi (15513753 )
Mata Kuliah: Psikologi Manajemen
Kelas: 3PA06
Kelompok kami akan mereview jurnal yang bertemakan “JOB
SATISFACTION (Kepuasan Kerja)”, dan jurnal yang kami pilih adalah
“KEPUASAN KERJA, SEMANGAT KERJA DAN KOMITMEN ORGANISASIONAL PADA STAF
PENGAJAR UNIVERSITAS GUNADARMA”
TUGAS REVIEW JURNAL
PSIKOLOGI MANAJEMEN
Jenis
penelitian ini menggunakan pendeketan metode kuantitatif
Nama Penulis : Ursa Majorsy
Judul Jurnal : Kepuasan
Kerja, Semangat Kerja dan Komitmen Organisasional Pada Staf Pengajar Universitas Gunadarma”
Ukuran Jurnal :
Jurnal Psikologi Volume 1, No. 1.
Tahun :
Desember,
2007
1. Latar
Belakang
Satuan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut dengan perguruan tinggi. Sebagai
organisasi yang menghasilkan pendidikan, perguruan tinggi yang baik adalah
perguruan tinggi yang secara kultur terintegrasi sehingga semua personal
memiliki komitmen yang sama untuk mencapai tujuan organisasi (Harsono 2008).
Tujuan dari perguruan tinggi
merupakan tujuan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas perguruan tinggi
hingga menciptakan kondisi yang saling menguntungkan antara tujuan personal
dengan tujuan organisasi. Salah satu individu yang terlibat dalam aktivitas perguruan tinggi
adalah staf pengajar atau dosen.
Menurut Arcaro (dalam Yulianti
2001) keberhasilan lembaga perguruan tinggi ditentukan oleh peran staf pengajar
(dosen) dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Agar proses belajar
mengajar dapat terlaksana dengan baik diharapkan staf pengajar memiliki
keterikatan psikologis terhadap organisasi maupun pekerjaanya. Keterikatan
antara staf pengajar dengan organisasi dan pekerjaannya disebut dengan komitmen
organisasional.
Menurut Robbins (1996) komitmen
organisasional didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seorang karyawan
memihak pada suatu organisasi tertentu serta berniat memelihara keanggotaannya
dalam organisasi tersebut. Bagi seorang staf pengajar, komitmen terhadap
pekerjaan dan organisasi dapat ditunjukkan dengan seberapa tinggi tingkat
keterlibatan staf pengajar yang bersangkutan terhadap profesi yang dijalaninya.
Komitmen yang tinggi diperkirakan akan membuat staf pengajar tetap hadir, aktif
dan bertahan di perguruan tinggi tempat dimana ia bekerja. Kurangnya komitmen
staf pengajar terhadap organisasi dapat dilihat dari tingkat keluar pekerjaan
(turn over). Komponen komitmen organisasional yang digunakan dalam penelitian
ini mengacu pada teori Meyer dan Allen (1997) yang mengemukakan tiga komponen
dalam komitmen organisasional, yaitu komitmen afektif, komitmen kontinuan dan
komitmen normatif.
Menurut Hornby (dalam Neliwati 2008) kepuasan kerja
adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang merasa puas, lega dan senang
karena situasi dan kondisi kerja yang dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan
harapannya. Oleh karena itu, apabila seseorang telah menemukan rasa puas
terhadap hasil kerjanya maka diasumsikan individu tersebut akan memiliki
komitmen yang tinggi terhadap pekerjaannya. Sebaliknya, menurunnya rasa puas
dalam diri seseorang terhadap pekerjaan akan menurunkan keterikatan individu
dengan pekerjaannya. Selain kepuasan
kerja, salah satu faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi komitmen staf
pengajar terhadap organisasinya adalah semangat kerja.
Menurut Nitisemito (1996) perusahaan atau instansi
akan mendapat banyak keuntungan bila setiap individu yang bekerja didalamnya
memiliki semangat atau kegairahan kerja yang tinggi. Semangat kerja yang tinggi
biasanya akan dapat dilihat dari kesediaan individu untuk bekerja dengan
sepenuh hati. Semangat kerja yang baik menurut Moekijat (1989) dapat
dihubungkan dengan motif dan hasil kerja yang baik. Sedangkan semangat kerja
yang rendah biasanya dihubungkan dengan kekecewaan, keengganan, kekurangan akan
dorongan serta hasil kerja yang kurang baik. Sebab turunnya semangat kerja
banyak sekali di antaranya bisa jadi karena upah yang terlalu rendah, insentif
yang kurang terarah, serta lingkungan kerja yang buruk. Turunnya semangat kerja
yang dimiliki seseorang akan berdampak pada keterlibatannya terhadap pekerjaan
dan organisasinya.
Sementara itu menurut Maier (1995) terdapat empat
aspek semangat kerja, yaitu kegairahan atau antusiasme, kualitas untuk
bertahan, kekuatan untuk melawan frustasi serta semangat berkelompok. Di dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
menyebutkan bahwa profesi dosen memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu
pendidikan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalannya.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu karakteristik dosen atau
staf pengajar yang berkualitas adalah memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan
organisasinya. Adapun hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah
komitmen dosen atau staf pengajar terhadap organisasinya yaitu perguruan
tinggi.
Menurut Moekijat (1989) apabila
individu merasa baik, bahagia dan optimis dalam melakukan pekerjaannya maka
individu tersebut digambarkan memiliki semangat kerja yang tinggi. Sebaliknya
apabila individu suka membantah, menyakitkan hati, terlihat aneh, merasa dalam
kesulitan serta tidak tenang dalam menjalankan tugas maka keadaan tersebut
digambarkan mengandung semangat kerja yang rendah.
2. Metode
Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah
65 orang staf pengajar Universitas Gunadarma, berjenis kelamin laki-laki maupun
perempuan. Teknik sampling yang digunakan untuk memperoleh subjek penelitian
adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sekelompok subjek berdasarkan
ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang berhubungan erat dengan tujuan
penelitian (Hadi, 2004). Subjek penelitian diperoleh dari beberapa bagian unit
kerja yang ada di Universitas Gunadarma, yang berlokasi di kampus D, E dan G.
Subjek penelitian yang diambil mewakili dari seluruh fakultas, yaitu fakultas
ilmu komputer, teknologi industri, ekonomi, teknik sipil dan perencanaan,
psikologi serta sastra. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan metode kuesioner atau angket. Kuesioner terdiri dari daftar isian
identitas subjek serta skala kepuasan kerja, skala semangat kerja dan skala
komitmen organisasional.
Untuk uji validitas dan
reliabilitas alat pengumpul data serta analisis data, perhitungannya dilakukan
dengan bantuan program SPSS Ver 12.0. Uji validitas item pada penelitian ini
menggunakan teknik korelasi product moment Pearson. Uji reliabilitas instrumen
menggunakan teknik Alpha Cronbach. Sedangkan teknik analisis data yang
digunakan adalah analisis regresi ganda (multiple regression).
3. Hasil
dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
komitmen organisasional dapat dijelaskan oleh variabel kepuasan kerja dan
semangat kerja. Kedua variabel tersebut memiliki pengaruh secara bersama-sama
sebesar 52.8% terhadap komitmen organisasional. Sedangkan secara terpisah
diketahui bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh sebesar 13.5% terhadap
komitmen organisasional dan semangat kerja memiliki pengaruh sebesar 51.3%
terhadap komitmen organisasional. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa
ketiga komponen dalam komitmen organisasional, yaitu komitmen afektif, komitmen
kontinuan dan komitmen normatif memiliki pengaruh yang sedang pada staf pengajar.
4. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya,
dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasional dapat dijelaskan oleh variabel
kepuasan kerja dan semangat kerja. Kedua variabel tersebut memiliki pengaruh
secara bersama-sama sebesar 52.8% terhadap komitmen organisasional. Sedangkan
secara terpisah diketahui bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh sebesar 13.5%
terhadap komitmen organisasional dan semangat kerja memiliki pengaruh sebesar
51.3% terhadap komitmen organisasional. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui
bahwa ketiga komponen dalam komitmen organisasional, yaitu komitmen afektif,
komitmen kontinuan dan komitmen normatif memiliki pengaruh yang sedang pada
staf pengajar.
5. Saran
Berdasarkan uraian dan hasil
penelitian yang telah dilakukan, ada baiknya mencoba menggali sebab-sebab lain
yang berpengaruh terhadap komitmen organisasional seperti pemberian kompensasi, motivasi, kondisi
kerja, prestasi, komunikasi interpersonal, stres kerja atau tuntutan kerja, agar
dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, P. 2006 Psikologi kerja Rineka Cipta
Jakarta.
Chen,
Y.J. 2007 “Relationships among service orientation, job satisfaction & organizational
commitment in the international tourist hotel industry” Journal of American
Academic of Business vol 11 pp 71-82.
Currivan,
D.B. 2000 “The causal order od job satisfaction and organizational commitment
in models of employee turnover. Human Resource Management Review vol 9 pp
495524.
Hadi,
S. 2004 Statistik 2. Andi Offset Yogyakarta.
Haire,
M. 1964 Psychology in management (second edition) McGraw-Hill Barkeley Harsono.
2008 Model-model pengelolaan perguruan tinggi: Perspektif sosiopolitik Pustaka
Pelajar Yogyakarta.
Kossen,
S. 1986 Aspek manusia dalam organisasi edisi ketiga Erlangga Jakarta.
Maier,
N.R.F. 1995 Psychology in industry Houghton Mifflin Company Boston.
Munandar,
A.S. 2001 Psikologi industri dan organisasi UI Press Jakarta.
Moekijat
1989 Manajemen kepegawaian PT. Mandar Maju Bandung.
Nitisemito,
A.S. 1996 Manajemen personalia (manajemen sumber daya manusia) Ghalia Indonesia
Jakarta.
Robin,
S.P. 1996 Perilaku organisasi: Konsep, kontroversi, aplikasi Jilid 1 Prenhallindo Prenhalindo. Spector,
P.E. 1997 Job satisfaction: Application, assessment, causes and consequences Sage
Publication Thousand Oaks.
Yulianti,
P. 2001 “Pengaruh sumbersumber stres kerja terhadap kepuasan kerja tenaga
edukatif tetap” Jurnal Penelitian Dinamika Sosial vol 2 pp 2 – 10.
Senin, 04 Januari 2016
JOB ENRICHMENT
Kelompok 7 ( Anggur )
Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
Gina Permatasari ( 13513737 )
Sinta Parwati ( 18513504 )
Yulsafa Tifanny ( 19513585 )
Muhamad Nurdin (15513753 )
Aulia syarafina (17511941)
Mata Kuliah: Psikologi Manajemen
Kelas: 3PA06
Kelompok kami akan mengreview jurnal
yang bertemakan “JOB ENRICHMENT” dan jurnal yang kami pilih adalah “PENGARUH JOB
ENRICHMENT TERHADAP KEPUASAN KERJA,
MOTIVASI DAN KOMITMEN ORGANISASI PT. FAJAR SURYA WISESA”
TUGAS REVIEW JURNAL PSIKOLOGI
MANAJEMEN
Jenis Penelitian: Jenis penelitian ini menggunakan
pendeketan metode kuantitatif
Nama Penulis :
Francisca Hermawan
Judul
Jurnal : Pengaruh Job
Enrichment Terhadap Kepuasan Kerja, Motivasi dan Komitmen Organisasi PT. Fajar
Surya Wisesa
Ukuran Jurnal : Vol. 16, No. 2
Tahun :
Agustus 2012
1.
Latar Belakang
Sumber daya manusia merupakan faktor yang terpenting
dalam suatu perusahaan, maka sudah semestinya SDM menjadi perhatian bagi
perusahaan agar dikelola dengan sebaik mungkin sehingga dapat meningkatkan
kebutuhan perusahaan agar lebih responsif, fleksibel, kompetitif dan inovatif.
Salah satu caranya adalah mendorong karyawan agar tidak membatasi diri pada apa
yang tertulis di deskripsi mereka yaitu dengan melakukan job enrichment.
Job enrichment merupakan peningkatan tanggung jawab dan
kontrol karyawan atas pekerjaannya sehingga dapat memotivasi karyawan tersebut.
Seperti kita ketahui bahwa setiap karyawan yang bekerja ditentukan oleh atasan
mereka, dan pekerjaannya dirancang sedemikian rupa agar memuaskan dan memberi
manfaat bagi semua pihak. Job enrichment mampu membuat pekerja menjadi
termotivasi agar berhasil mencapai kepuasan kerja dengan kemampuan mereka
sendiri.
PT. Fajar Wisesa merupakan perusahaan kertas kemasan yang
berdiri pada tanggal 13Juni 1987. Perusahaan ini menghasilkan kertas industri
seperti sack kraft, containerboard (liner dan corrugating medium) dan boxboard
yang digunakan untuk kemasan produk-produk konsumen dan barang-barang industri.
PT. Fajar Wisesa memiliki karyawan dengan tingkat
kepuasan kerja, motivasi dan komitmen organisasi yang tinggi. Akan tetapi,
peneliti ngin mengetahui apakah tingginya tingkat kepuasan kerja, motivasi dan
komitmen organisasi tersebut dipengaruhi oleh job enrichment atau tidak. Semakin puas, termotivasi dan
berkomitmen seorang karyawan maka kinerja akan lebih efisien dan efektif
terkait dengan perusahaan melakukan job enrichment dimana karyawan dapat meningkatkan
kebebasan, peran dan tanggung jawab dalam pekerjaan mereka.
2. Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini yakni peneliti ingin menganalisis
pengaruh job enrichment terhadap kepuasan kerja; motivasi; komitmen organisasi
di PT. Fajar Surya Wisesa
3.
Model & Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pada
kerangka teori dan hasil penelitian sebelumnya, model yang diajukan peneliti
adalah sebagai berikut :
Sumber : Reza dan Nawas “Impact of Job Enrichment on Employees Job
Satistaction, Motivation and Organizational Commitment” europian journal of
social sciences-2011.
Sedangkan
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
H1 : Job enrichment berpengaruh terhadap
kepuasan kerja
H2 : Job enrichment berpengaruh terhadap
motivasi
H3 : Job enrichment berpengaruh terhadap
komitmen organisasi
H4 : Job enrichment berpengaruh terhadap
kepuasan kerja, motivasi dan komitmen organisasi.
4.
Metode
Penelitian
Data
yang digunakan dalam analisis penelitian ini berupa persepsi responden dengan
menyebarkan 65 kuesioner pada karyawan PT. Fajar Surya Wisesa. Perhitungan
jumlah responden ditentukan menggunakan rumus slovin. Penelitian ini
menggunakan teknik convenience sampling dimana peneliti memiliki kebebasan
untuk memilih siapa saja yang mudah temui dalam perusahaan.
5.
Hasil Penelitian
Besarnya
Overall Mean Score job enrichment dapat dilihata bahwa job enrichment pada
karyawan PT. Fajar Surya Wisesa memiliki kategori netral karena berada di nilai
mean score 3.40 terutama pada dimensi otonomi. Hal ini mungkin disebabkan PT.
Fajar Surya Wisesa masih memberi sedikit kesempatan R untu karyawan dalam berfikir dan bertindak secara mandiri.
Kepuasan
kerja pada karyawan PT. Fajar Surya Wisesa memiliki tingkatan yang puas dengan mean score 3.41 hal ini mungkin
disebabkan manajemen perusahaan meperlakukan karyawan dengan jujur sehingga
karyawan menjadi puas. Motivasi pada karyawan PT. Fajar Surya Wisesa memiliki
tingkatan yang tinggi dengan mean score
3,42 terlihat dari pekerjaan menarik minat karyawan sehingga karyawan menjadi
termotivasi.
Komitmen
organisasi pada karyawan PT. Fajar Surya Wisesa memiliki tingkatan yang tinggi
dengan mean score 3,41 hal ini dapat
disimpulkan bahwa karyawan menganggap permasalahan perusahaan adalah
permasalahan mereka sendiri sehingga menjadi komitmen
Prosentasi
pengaruh variable independen terhadap variable dependen antara job enrichment dengan kepuasan kerja (R2=81,3%) ; job
enrichment dengan motivasi (R2=83,9%) ; job enrichment dengan
komitmen organisasi (R2=85%) ada pengaruh signifikan.
Berdasakan
hasil analisis regresi pada jurnal tersebut diperoleh bukti bahwa nilai t untuk
pengaruh job enrichment terhadap
kepuasan kerja adalah sebesar 16,556 pada signikansi 0,00 (<0,05) berarti
ada pengaruh yang signifikan, sedangkan nilai t untuk pengaruh job enrichment terhadap motivasi sebesar
18,102 pada signifikan 0,000 (<0,5) berarti ada pengaruh yang signifikan dan
nilai t untuk pengaruh job enrichment
terhadap komitmen organisasi adalah sebesar 18,882 pada signifikan 0,000
(<0,005) berarti ada pengaruh yang signifikan.
Hasil
uji Manova menunjukan ada perbedaan secara simultan antara variable dependen
(Kepuasan Kerja; Motivasi Kerja; Komitmen Organisasi) terhadap variable
independen (job enrichment)
6.
Kesimpulan
Hasil
penelitian penulis sedikit berbeda dengan jurnal hasil penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Reza dan Nawaz dengan topik “Impact of Job Enrichment on Employees, Job Satisfaction, Motivation
and Organizational Commitment” di Pakistan yang mengemukakan bahwa job
enrichment mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja, motivasi
dan komitmen organisasi sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis
yaitu untuk penelitian ini job enrichment memiliki tingkatan cukup sedangkan
kepuasan kerja, motivasi dan komitmen organisasi memiliki tingkatan puas dan
tinggi.
Sedangkan
kualitas hubungan job enrichment dengan kepuasan kerja, kualitas hubungan job
enrichment dengan motivasi dan kualitas hubungan job enrichment dengan komitmen
organisasi, masing-masing memiliki kolerasi yang positif dan uat artinya jika
variable dependent meningkat maka mempengaruhi peningkatan variable independent.
7.
Saran
PT.
Fajar Surya Wisesa sebaiknya lebih meningkatkan job enrichment agar kepuasan
kerja, motivasi dan komitmen terhadap perusahaan meningkat, sehingga karyawan
semakin memiliki kepuasan kerja yang tinggi terhadap pekerjaannya, motivasi
kerja tinggi, ketidakhadiran dan turnover yang rendah serta kinerja pekerjaan
yang berkualitas. Disamping itu manajemen perusahaan perlu mengatur
pekerjaan karyawan seefektif mungkin
sehingga karyawan dapat menyelesaikan aktivitasnya dengan akurat dan tepat
waktu. Manajemen perusahaan perlu membebaskan karyawan dalam bertanggung jawab
dan memberi umpan balik atas kinerjanya.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, N. J., & Mayer, J.P. (1997). Communication In Workplace : Theory,
Research, And Aplication (California : SAGE Publication).
Ghozaly, Imam., (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPPS (3th ed.).
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Greenberg, J & Baron, R.A. (2008). Behavior in Organizations (9th ed.). New
Jersey, Parason Prentice Hall
Hasibuan, Melayu S.P (2007). Manajemen Sumber Daya
Manusia, Edisi revisi, Jakarta Bumi Aksara
Ivanchevich, J.M. (2007).
Human Resource Management (10th ed).
New York : McGraw Hill
Mas’ud, F. (2004). Survei Diagnosis Organisasional. Semarang
: BPFE UNDIP
Mathis Robert L &
Jackson John H (2002) Manajemen Sumber Daya Manusia Jakarta, Salemba Empat
Nawawi, Hadari (2003),
Manajemen Sumber Daya Manusia yang kompetetif untuk Bisnis, Yogyakarta, Gadjah
Mada University Press.
Raza, M.A & Nawaz,
M.M. (2011). Impact of Job Enrichment on
Employees’s Job Satification, Motivation and Organizational Commitment :
Evidence From Public Sector of Pakistan. European Journal of Social Sciences,
vol. 23.
Robbins, Stephen.P &
Judge, Timothy.A. (2009). Organizational
Behavior (13th ed). New York : McGraw Hill.
Sekaran, U. (2006). Metode Penelitian untuk Bisnis. Jakarta
: Salemba Empat.
Steers, R.M (2008) Efektivitas Organisasi. Jakarta:
Airlangga
Suprihanto (2000),
Penelitian Kinerja & Pengembangan Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : BPFE
Uyanto, S, S. (2006). Pedoman Analisis Data Dengan SPPS (3th
ed.)
Yamane, Taro (2003), Elementary Sampling Theory, Engliwod cliffs
pretice Hall
Sabtu, 26 Desember 2015
REVIEW JURNAL MOTIVASI
Kelompok 7 ( Anggur )
Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
Gina Permatasari ( 13513737 )
Sinta Parwati ( 18513504 )
Yulsafa Tifanny ( 19513585 )
Muhamad Nurdin (15513753 )
Aulia syarafina (17511941)
Mata Kuliah: Psikologi Manajemen
Kelas: 3PA06
Kelompok kami akan mengreview
jurnal yang bertemakan “MOTIVASI” dan jurnal yang kami pilih
adalah “PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN
LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi pada Karyawan Bagian Produksi
PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya)”
TUGAS
REVIEW JURNAL PSIKOLOGI MANAJEMEN
Jenis Penelitian : Penelitian penjelasan (explanatory
research) dengan pendekatan kuantitatif
Nama Penulis : Aldo Herlambang Gardjito, Mochammad Al Musadieq dan Gunawan Eko
Nurtjahjono
Judul
Jurnal : Pengaruh
motivasi kerja dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan (Studi pada
Karyawan Bagian Produksi PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya)”
Ukuran
Jurnal : Vol. 13 No. 1
Tahun : Agustus
2014
1.
Latar Belakang
Salah satu faktor yang dapat mendorong meningkatnya
produktivitas sumber daya manusia adalah upaya-upaya peningkatan motivasi kerja
yang memadai, seperti pemenuhan kebutuhan baik yang bersifat eksternal
(pemenuan kebutuhan primer, pangan, sandang, dan papan serta lingkungan yang
memadai) dan kebutuhan yang bersifat internal (keinginan karyawan untuk
menempatkan dirinya dalam posisi karier yang memuaskan). Disadari bahwa salah
satu alasan utama seseorang menjadi karyawan atau bekerja dalam suatu
organisasi adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari atau dengan kata lain kebutuhan ekonominya dan
kebutuhan berprestasi yang mendapat pengakuan dari masyarakat. Adanya kepastian
menerima upah ataupun gaji tersebut secara periodik, berarti ada jaminan “economic
security” nya beserta keluarga yang menjadi tanggungannya, demikian pula
pada perkembangan kariernya sebagai kebutuhan mengaktulisasi kemampuan dan
potensi yang dimiliki.
Pemberian kesempatan kepada setiap karyawan untuk
berkembang, memenuhi kebutuhan-kebutuhannya berdasarkan kemampuan dan
kompetensi individu merupakan bagian terpenting dari upaya pemberian pemenuhan
kebutuhan bagi karyawan, terutama pada upaya memupuk motivasi kerja karyawan ke
arah produktivitas yang lebih tinggi, sebab dengan adanya pemenuhan kebutuhan
yang sesuai dengan harapan karyawan, terutama imbalan finansial berupa gaji dan
bonus atas prestasi kerja mereka, maka memungkinkan karyawan berkonsentrasi
penuh terhadap pekerjannya.
Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kinerja
karyawan adalah faktor lingkungan kerja. Menurut Nitisemito (2000:183)
lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang
dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang di jalankan. Lingkungan
kerja yang nyaman bagi karyawannya dapat meningkatkan kinerja. Sebaliknya
lingkungan kerja yang tidak memadai akan dapat menurunkan kinerja dan akhirnya
menurunkan motivasi kerja karyawan.
PT. Karmand Mitra Andalan merupakan perusahaan
swasta nasional yang bergerak di bidang chemical berdiri sejak 1988 yang
merupakan kelanjutan dari CV. Karya Mandiri dengan lokasi produksi yang berada
di kawasan Rungkut Industri Surabaya. Sejalan dengan kondisi tersebut, maka PT.
Karmand Mitra Andalan dituntut untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi
persaingan, salah satunya adalah dengan memperhatikan faktor tenaga kerja.
Permasalahan yang dialami oleh tenaga kerja diantaranya motivasi kerja,
penurunan semangat kerja dan penurunan kinerja.
Bagaimana pengaruh motivasi kerja secara parsial dan
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan.
Bagaimana pengaruh lingkungan kerja secara parsial dan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan. Bagaimana pengaruh
motivasi kerja dan lingkungan kerja secara simultan dan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan.
2.
Metode
a.
Analisis deskriptif
Analisis
deskriptif diperlukan pada variabel-variabel penelitian, tetapi sifatnya
sendiri, tidak dikaitkan dengan variabel lain. Berdasarkan variabel tersebut,
analisis dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai banyak hal (Umar,
2010:103).
b. Analisis
Regresi Linier Berganda
Analisa
model persamaan regresi linier berganda atau Multiple Linear Regression
Analysis digunakan untuk meregresikan secara simultan antara variabel bebas
atau independent variable dengan variabel terikat atau dependent
variable.
Dalam
penelitian ini model regresi yang digunakan yaitu :
Y = a + b1X1+ b2X2 + e
Keterangan
:
Y =
variabel terikat (Kepuasan kerja karyawan)
X1 =
variabel bebas (Keselamatan Kerja)
X2 =
variabel bebas (Kesehatan Kerja)
a =
konstanta
b1,
b2 = koefisien regresi
c.
Uji F
Untuk
melakukan pengujian pengaruh dari variabel-variabel bebas secara simultan
terhadap variabel terikat, maka dilakukan dengan menggunakan uji F.
d.
Uji t
Uji
t ini dilakukan untuk menguji signifikan masing-masing variabel bebas secara
parsial atau untuk mengetahui variabel bebas mana yang lebih berpengaruh
diantara kedua variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
3.
Hasil Penelitian
Koefisien korelasi (R) sebesar 0,812; menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang kuat antara motivasi kerja dan lingkungan kerja
terhadap kinerja sebesar 81,2%. Hubungan ini dapat dikategorikan kuat,
sebagaimana diketahui bahwa suatu hubungan dikatakan sempurna jika koefisien
korelasinya mencapai angka 100% atau 1 (baik dengan angka positif atau
negatif).
Hasil analisis regresi linier berganda di atas,
dapat diketahui nilai koefisien determinasi (R square) sebesar 0,660.
Angka ini menunjukkan bahwa variabel motivasi kerja dan lingkungan kerja dapat
menjelaskan variasi atau mampu memberikan kontribusi terhadap variabel kinerja
sebesar 66%, sedangkan sisanya sebesar 34% disebabkan oleh variabel lain yang
tidak dimasukkan dalam penelitian.
4.
Hipotesis Jurnal
a.
Uji Hipotesis 1
Untuk
menguji hipotesis 1 yang menyatakan bahwa motivasi kerja (X1) berpengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) menggunakan uji t. Hasil analisis uji
t diperoleh nilai signifikansi t motivasi kerja sebesar 0,000 lebih kecil dari x
= 0,5 (0,000 < 0,05), sehingga terbukti variabel motivasi kerja (X1)
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Dengan demikian hipotesis
pertama secara statistik diterima.
b.
Uji Hipotesis 2
Untuk
menguji hipotesis 2 yang menyatakan bahwa lingkungan kerja (X2) berpengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) menggunakan uji t. Hasil analisis uji
t diperoleh nilai signifikansi t lingkungan kerja sebesar 0,013 lebih kecil
dari x = 0,5 (0,013 < 0,05), sehingga terbukti variabel lingkungan kerja (X2)
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Dengan demikian hipotesis
kedua secara statistik diterima.
c.
Uji Hipotesis 3
Untuk
menguji hipotesis 3 yang menyatakan bahwa motivasi kerja (X1) dan lingkungan
kerja (X2) berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja karyawan (Y)
menggunakan uji F. Hasil uji F diperoleh nilai signifikansi F sebesar 0,000
lebih kecil dari x = 0,05 (0,000 < 0,05), jadi motivasi kerja dan lingkungan
kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan,
sehingga hipotesis ketiga secara statistik diterima.
5.
Kesimpulan
1.
Motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand
Mitra Andalan Surabaya.
2.
Lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand
Mitra Andalan Surabaya.
3.
Motivasi kerja dan lingkungan kerja secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya.
6.
Saran
1.
Pimpinan perlu meningkatkan motivasi kerja karyawan agar dapat lebih
meningkatkan kinerjanya. Misalnya, dengan cara memotivasi untuk berprestasi
dengan memberikan imbalan (di luar gaji) yang sesuai bila prestasi karyawan
baik, sehingga karyawan akan merasa dihargai kerjanya.
2.
Menanamkan rasa kepercayaan terhadap para karyawan dan memberikan kebebasan
kepada mereka untuk mengemukakan pendapat yang mungkin akan berguna bagi
perusahaan sekaligus memberikan kesan bahwa karyawan diikutsertakan dalam
mengelola perusahaan sehingga karyawan merasa ikut memiliki, dengan demikian
karyawan akan memiliki loyalitas atau lebih bertanggung jawab terhadap
perusahaan.
3.
Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk meneliti pengaruh lingkungan kerja
terhadap motivasi, mengingat lingkungan kerja yang baik dapat memotivasi kerja
karyawan sehingga kinerja meningkat.
4.
Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan pengembangan penelitian
dengan menggunakan variabel bebas yang lain seperti kompensasi, kepemimpinan,
strees kerja, sehingga dapat memberikan pengaruh lebih baik lagi terhadap
kinerja karyawan.
Daftar Pustaka
Alex, Nitisemito. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia, Gema pustaka, Jakarta.
Arida,
Ayu. 2010. Jurnal : Pengaruh Motivasi, Lingkungan Kerja dan Kepemimpinan
Terhadap Kinerja Karyawan. PT. SAI Apparel Semarang.
Husein, Umar. 2010. Metode Penelitian Untuk Skripsi
dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kusuma
dan Nugraha. 2012. Jurnal : Pengaruh Kompensasi, Lingkungan Kerja, dan Motivasi
Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Coca-cola Bottling Central Java.
Malthis. 2006. Manajemen
Sumber Daya Manusia. Salemba Empat. Jakarta.
Mangkunegara,
A.A Anwar Prabu. 2010. Evaluasi Kinerja
SDM. Bandung: PT Revika Aditama.
Sedarmayanti.
2007. Manajemen Sumber Daya Manusia,
Penerbit Refika Aditama, Bandung.
Sugito,
Hadi. 2005. Pengertian Proses dan Desain Proses Pengembangan SDM. Melalui http://www.hadisugito.fadla.or.id.
Sunarto.
2005 Manajemen Karyawan, Amus,
Yogyakarta.
Utomo,
Sulistyo. 2010. Jurnal : Pengaruh Motivasi dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan. CV Berkat Cipta Karya Nusantara Surabaya.
Wulan,
lucky. 2011. Skripsi: Analisis Pengaruh Motivasi Kerja Dan Lingkungan Kerja
terhadap kinerja karyawan. Studi Pada Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Kota
Semarang. Universitas Diponegoro Semarang.
Langganan:
Komentar (Atom)
