Jumat, 06 Maret 2015

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT

A. Aliran Psikoanalisa

Teori psikologi Freud didasari pada keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis. Energi psikis inilah yang mendorong individu untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis, energi psikis itu berasumsi pada fungsi psikis yang berbeda yaitu: Id, Ego dan Super Ego.


Kepribadian yang sehat menurut psikoanalisis:
Menurut freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
Kemampuan dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar.
Mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego.
Tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya.
Dapat menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan. 


B. Aliran Behavioristik

Aliran behaviorisme mempunyai 3 ciri penting:
a. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku.
b. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
c. Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.

Kepribadian yang sehat menurut behavioristik:
Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan
lingkungannya.
Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman.
Sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri.
Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif.

DAFTAR PUSTAKA

Yustinus Semiun. OFM. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta : Kanisius 

KESEHATAN MENTAL

A.  ORIENTASI KESEHATAN MENTAL


Menurut WHO, kesehatan mental adalah suatu kondisi ‘sejahtera’ dimana individu dapat merealisasikan kecakapannya, dapat melakukan coping terhadap tekanan hidup yang normal, bekerja dengan produktif dan memiliki konstribusi dalam kehidupan di komunitasnya.
Assagioli, (Ihrom, 2008) mendefinisikan, kesehatan mental adalah terwujudnya integritas kepribadian, keselarasan dengan jati diri, pertumbuhan ke arah realisasi diri, dan ke arah hubungan yang sehat dengan orang lain.

Menurut Jahoda (Ihrom, 2008), kesehatan mental mencakup :
a. Sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali
    diri dengan baik.
b. Pertumbuhan dan perkembangan serta perwujudan diri yang baik.
c. Keseimbangan mental, kesatuan pandangan dan ketahanan terhadap
    segala tekanan.
d. Otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam
    atau kelakuan-kelakuan bebas.


B. KONSEP SEHAT

Konsep sehat dan kesehatan merupakan dua hal yang hampir sama tapi berbeda.Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
Pengertian sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Sehat dapat dikatakan, sesuatu kondisi normal secara emosi (EQ), intelektual (IQ), spiritual (SQ) dan social. Dari pernyataan diatas sudah didapat tentang dimensi sehat, berikut pemahamannya:
Fisik 
Dikatakan sehat bila secara fisiologi (fisik) terlihat normal tidak cacat, tidak mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu apapun.
Emosi
Orang yang sehat secara emosi dapat terlihat dari kestabilan dan kemampuannya mengontrol dan mengeskripsikan perasaan (marah, sedih, atau senang) secara tidak berlebihan. Mampu mendisiplinkan diri.
Intelektual
Dikatakan sehat secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik mampu melihat realitas. Memiliki nalar yang baik dalam memecahkan , masalah atau mengambil keputusan.
Spiritual
Sementara orang yang sehat secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berfikir rasional.
Sosial
Sehat secara social dapat dikatakan mereka yang bisa berinteraksi dan berhubungan baik dengan sekitarnya, serta mampu untuk bekerja sama.



C. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Sejarah perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang yang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri. Mereka mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental. Jadilah manusia yang dengan rasa putus asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental. Dengan kesehatan mental ini kita dapat bandingkan dengan mata uang yang mempunyai dua sisi yang di sisi satunya sakit dan yang di sisi satunya lagi baik.
Perlu diketahui disini sejarah tercatat melaporkan berbagai macam interpretasi mengenai penyakit mental dan cara menghilangkannya. Hal ini disebabkan oleh dua alasan , yaitu (1) Sifat dari masalah yang disebabkan oleh tingkah laku abnormal membuatnya menjadi merasa ketakutan. (2) Perkembangan semua ilmu pengetahuan begitu lambat, dan banyak kemajuan yang sangat penting. Pada masa awal awal orang yang sakit mental dapat dipahami secara seluruh sering diperlakukan dengan kurang baik. Di jaman prasejarah pun manusia purba sering kali mengalami gangguan mental baik fisik maupun gangguan gangguan yang baik. Di jaman prasejarah ini juga terdapat perawatan-perawatan untuk penyakit gangguan mental yaitu:
menggosok, menjilat, mengisap dan memotong.
Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karna masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Hal ini lebih karna mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa bukan lagi sebagai gangguan.

Perkembangan Kesehatan Mental Pra Ilmiah
1. Masa Animisme
Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban yang mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari abad 7-5 SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan.
2. Kemunculan Naturalisme
Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrastes menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniak) dirantai, diikat di tembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih karena dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil. Mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.

Perkembangan Kesehatan Mental Era Modern
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene” yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge” beserta gerakan-gerakan yang terorganisir.
Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham Beers. Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, seperti American Social Hygiene Associatin(ASHA), dan American Federatio  for Sex Hygiene.
Perkembangan gerakan-gerakan di bidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
Pada tahun 1950, organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.

Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health Organization”.

D. Pendekatan Kesehatan Mental

Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental.
Orientasi Penyesuaian Diri
Orientasi Penyesuaian Diri Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain.
Orientasi Pengembangan Potensi
Orientasi Pengembangan Potensi Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat  kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan.

DAFTAR PUSTAKA

Yustinus Semiun. OFM. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta : Kanisius 
Siswanto. S. Psi. Msi. 2007. Kesehatan MentalKonsep, Cakupan dan Perkembangan. Yogyakarta: Andi.
Nasrudin, Endin. 2009. Psikologi Agama. Bandung: Qutub Production
staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/…./kesehatan-mental.pdf




Rabu, 21 Januari 2015

PENGALAMAN SEMESTER 3

Pengalaman saya disemester 3 ini dimulai sejak masuk dikelas 2PA06. Teman ditingkat 1 yang sekarang sekelas hanya ada 2 orang. Awal masuk kelas saya merasa asing dengan teman-teman didalam kelas tersebut  anak-anaknya terlihat agak jutek dan sombong. Awalnya saya merasa ragu untuk berinteraksi dengan mereka. Tetapi seiring jalannya waktu saya memberanikan diri untuk berinteraksi dengan mereka semuanya hasilnya saya merasa nyaman dikelas sekarang. Ternyata dari ke jutekan tersebut hati mereka baik.


Saya juga bisa menilai sifat-sifat dari mereka ada yang jutek, pendiam, jail , baik, pinter, heboh dan lain-lain. Dari sifat tersebut justru menjadi kelas yang kompak, nyaman, asik. Saya merasa lebih nyaman lagi karena saya mempunyai teman dekat yang menyenangkan yaitu sinta, anatasya, gina dan marlisa. Walaupun terkadang mereka menyebalkan tapi dari itu semua mereka baik dan kompak. Saya hanya berharap dikelas 2PA06 ini semua anak-anaknya lebih kompak lagi dalam hal apapun. Dan semoga kita semua bisa menjadi seorang psikologi sukses yang dapat membahagiakan orang tua.
Rabu, 07 Januari 2015

TEST PSIKOLOGI ONLINE & PSIKOTERAPI KLINIS DENGAN METODE BANTUAN INTERNET

Berikut adalah hasil screenshoot Tes IQ & Kepribadian dengan judul kesabaran:







                          





























           


PENGERTIAN PSIKOTERAPI

Psikoterapi adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru atau akan mengalami perceraian.
Umumnya psikoterapi dianjurkan bila seseorang bergulat dengan kehidupan, masalah hubungan atau kerja atau masalah kesehatan mental tertentu, dan isu-isu atau masalah yang menyebabkan banyak individu yang besar rasa sakit atau marah selama lebih dari beberapa hari. Ada pengecualian untuk aturan umum, tetapi sebagian besar, tidak ada salahnya untuk pergi ke terapi bahkan jika Anda tidak sepenuhnya yakin Anda akan mendapat manfaat dari itu. Jutaan orang mengunjungi psikoterapis setiap tahun, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa orang yang melakukannya manfaat dari interaksi. Kebanyakan terapis juga akan jujur dengan Anda jika mereka yakin Anda tidak akan mendapatkan keuntungan atau pendapat mereka, tidak perlu psikoterapi.

Psikoterapi modern sangat berbeda dengan versi Hollywood. Biasanya, kebanyakan orang melihat terapis mereka sekali seminggu selama 50 menit. Untuk obat-janji saja, sesi akan bersama seorang perawat kejiwaan atau psikiater dan cenderung terakhir hanya 15 sampai 20 menit. Janji ini pengobatan cenderung dijadwalkan sekali per bulan atau sekali setiap enam minggu.

Kebanyakan psikoterapi cenderung berfokus pada pemecahan masalah dan berorientasi pada tujuan. Itu berarti pada awal perawatan, Anda dan terapis Anda memutuskan perubahan spesifik yang Anda ingin lakukan dalam kehidupan Anda. Tujuan ini akan sering dipecah ke dalam tujuan dicapai lebih kecil dan dimasukkan ke dalam rencana pengobatan formal. Sebagian psikoterapis hari bekerja dan fokus pada membantu Anda untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini dilakukan hanya melalui berbicara dan membahas teknik yang dapat menyarankan terapis yang dapat membantu Anda lebih menavigasi daerah-daerah yang sulit dalam kehidupan Anda. Seringkali psikoterapi akan membantu mengajar orang tentang gangguan mereka juga, dan menyarankan mekanisme bertahan tambahan bahwa orang tersebut dapat menemukan lebih efektif. Kebanyakan psikoterapi hari ini adalah jangka pendek dan berlangsung kurang dari setahun. Kebanyakan gangguan mental yang umum sering dapat diatasi dalam waktu tersebut, sering dengan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan .

Psikoterapi yang paling berhasil ketika individu memasuki terapi sendiri dan memiliki keinginan kuat untuk berubah. Jika Anda tidak ingin mengubah, perubahan akan lambat datang. Ubah berarti mengubah aspek-aspek kehidupan Anda yang tidak bekerja untuk Anda lagi, atau berkontribusi masalah atau isu yang sedang berlangsung. Hal ini juga yang terbaik untuk menjaga pikiran yang terbuka sedangkan di psikoterapi, dan bersedia untuk mencoba hal baru yang biasanya Anda tidak dapat melakukannya. Psikoterapi sering sekitar menantang seseorang ada serangkaian keyakinan dan sering, seseorang sangat diri. Hal ini paling berhasil apabila seseorang mampu dan mau untuk mencoba melakukan hal ini dalam lingkungan yang aman dan mendukung.


Ada tiga ciri utama psikoterapi, yaitu:
  1. Dari segi proses : berupa interaksi antara dua pihak, formal, profesional, legal dan menganut kode etik psikoterapi.
  2. Dari segi tujuan : untuk mengubah kondisi psikologis seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi psikologis yang sudah ada.
  3. Dari segi tindakan: seorang psikoterapis melakukan tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologi modern yang sudah teruji efektivitasnya.

Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek mental manusia seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system, kebiasaan dan pola perilaku bisa diubah dengan pendekatan psikologis. Tujuan psikoterapi antara lain:
·         Menghapus, mengubah atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
·         Mengatasi pola perilaku yang terganggu.
·         Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.
·         Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
·         Menghilangkan atau mengurangi tekanan emosional.
·         Mengembangkan potensi klien.
·         Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik.
·         Memodifikasi struktur kognisi (pola pikiran).
·         Memperoleh pengetahuan tentang diri / pemahaman diri.
·         Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
·         Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
·         Membantu penyembuhan penyakit fisik.
·         Meningkatkan kesadaran diri.
·         Membangun kemandirian dan ketegaran untuk menghadapi masalah.
·         Penyesuaian lingkungan sosial demi tercapai perubahan dan masih banyak lagi.



SUMBER

http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-psikoterapi-,6   
Rabu, 26 November 2014

FENOMENA INTERNET ADDICTION DALAM KEHIDUPAN SEHARI - HARI

Pengertian internet adiksi 
     
Internet addiction oleh Young (dalam Tuapattimaja & Rahayu) diungkapkan sebagai sebuah syndrome yang ditandai dengan menghabiskan banyak waktu dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online, orang-orang yang menunjukkan syndrome ini akan merasa cemas, depresi,atau hampa saat tidak online di internet serta menyebabkan korbannya mulai menyembunyikan tingkat ketergantungannya terhadap internet tersebut.

Penggunaan internet yang berlebihan mencapai presentase 52% sangat jauh berbeda dengan yang kecanduan internet yang hanya mencapai 8% saja. Walaupun masalah kecanduan internet hanya mencapai presentase yang sedikit, tetapi melihat presentase penggunaan internet yang berlebihan mencapai 52% perlu diperhatikan lagi permasalahan ini, karena kecanduan internet bermula dari keasyikan kita berlama-lama menggunakan internet, lambat laun kita akan merasa cemas dengan tidak bermain internet, dan lama-kelamaan akan menjadi pecandu internet yang sulit lepas dari internet dan berdampak kurang baik dalam aspek psikologis (neuroticism, extraversion, kecemasan sosial, kesepian emosional, kesepian sosial, dukungan sosial, dan dukungan sosial internet).

Faktor Etiologi
Kecanduan didefinisikan sebagai dorongan kebiasaan untuk terlibat dalam aktivitas tertentu atau menggunakan zat, bukan dengan berdiri konsekuensi buruk pada individu fisik, sosial, spiritual, mental, dan kesejahteraan finansial. Alih-alih mengatasi hambatan hidup, mengatasi stres sehari-hari dan menghadapi trauma masa lalu atau sekarang, pecandu merespon maladaptif dengan beralih ke mekanisme koping semu. Biasanya, kecanduan memanifestasikan karakteristik psikologis dan fisik. Sebagai kecanduan perilaku, fokus pada isu-isu psikologis yang meningkatkan konsumsi internet adalah membantu untuk membantu dalam pemahaman klinis mengapa orang berlebihan
.


Jenis-Jenis Internet addiction
Berikut ini adalah sub-sub tipe dari internet addiction menurut Kimberly S. Young, et. al. (2006):
a. Cybersexual Addiction,
Termasuk ke dalam cybersexual addiction antara lain adalah individu yang secara kompulsif mengunjungi website-website khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam pengunduhan dan distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa.
b. Cyber-Relationship Addiction
Cyber-relationship addiction mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara online. Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room dan seringkali menjadi terlalu-terlibat dalam hubungan pertemanan online atau terikat dalam perselingkuhan virtual.
c. Net compulsions
Yang termasuk dalam sub tipe net compulsions misalnya perjudian online, belanja online, dan perdagangan online.


CONTOH KASUS

      Baru bangun tidur, setelah semalaman beristirahat, langsung pegang gadget. Bisa BBM, tablet, atau laptop. Lho, ada perlu apa? Untuk kembali online dan melihat kabar dari teman-teman di jejaring sosial. Ada yang semalam suntuk tidak bisa tidur, ada yang mengomentari pertandingan bola, ada yang sharing macam-macam. Tips, curhat soal teman atau kekasih, berita-berita politik, membaca tautan dari laman gosip, dan lainnya
Jeda kegiatan hanya sebentar. Diselingi mandi, bersiap-siap, dan sarapan. Berangkat kerja? Menuju kantor, kembali online, fokus pada gadget di perjalanan. Masuk kantor, kerjaan diselingi kegiatan memperbarui dan mengomentari berbagai status teman. Jam istirahat, apalagi. Habis makan siang, merasa mengantuk dan bosan, akhirnya online lagi.
Pulang kerja, menemani perjalanan di jalan, saling sapa kabar dan rencana akhir pekan. Oke, lalu lintas yang macet cukup jadi inspirasi untuk melampiaskan kekesalan. Sampai rumah, makan malam dan bersih-bersih. Jika sempat nonton, TV diamati. Jelang malam, online sebentar untuk lihat apa yang terbaru. Buat status selamat malam, dikomentari, terlibat obrolan, ngalor-ngidul, sampai tengah malam. Mata terpejam, tidur, dan bangun pagi untuk melihat adakah lanjutan dari obrolan semalam di jejaring sosial.
     Tanpa disadari, berselancar dan menikmati dunia maya, terutama pada jejaring sosial, telah membuat banyak orang “ketergantungan” dengannya. Tidak berlebihan bila dikatakan kecanduan, mengingat mereka bisa seharian memandangi layar internet.
Kaidah umumnya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Begitu pula fenomena ini. Seorang ahli di Malaysia mengatakan, orang yang kerap membuka jejaring sosial, baik itu di kantor, rumah, di jalan, dan tempat lainnya, akan menjauhkannya dari interaksi langsung dengan orang lain. Makin cepat dan mudah diakses, makin sering dan lama, efeknya kian terasa. Psikolog dan penasihat, Adnan Omar memberi contoh dampaknya pada pasangan.

“Contohnya, banyak pasangan yang kehilangan kesempatan bertemu langsung atau pergi makan malam. Mereka cukup puas dengan berinteraksi di internet, sekadar mengencek surel dari perangkat telekomunikasi mereka.”
Hal ini patut dikhawatirkan mengingat kemampuan interaksi kita dengan manusia lain akan perlahan menghilang.

“Jika Anda,” lanjut Adnan, “menghabiskan waktu sekitar 25 jam selama sepekan untuk jejaring sosial dibandingkan beraktivitas ataupun alasan akademis lainnya, itu artinya Anda telah kecanduan. Anda telah dimudahkan kondisi internet yang gampang tersedia, dan Anda tak perlu mematikannya.”
Sebagai seorang psikolog, Adnan mengungkapkan bahwa banyak pecandu jejaring sosial merasa kecewa ketika status atau posting-nya tidak direspon. Mereka, menurut Adnan, sebenarnya memposting berbagai macam hal untuk menunggu respons balik, sebuah perilaku untuk memuaskan kondisi batin. Memang ada faktor lain, yaitu menghabiskan waktu. Akan tetapi, kian mudahnya teknologi, harusnya juga diiringi dengan kebijaksanaan. Menghabiskan waktu di jejaring sosial jelas tidak baik dan dapat mengurangi produktivitas kerja kita.


Sumber :
http://www.mizanmag.com/denyut/jejaring-sosial-25-jam-sepekan-anda-telah-kecanduan.html#.UmkYtVM6Was

Analisis Fenomena Di Media Sosial (bullying) terhadap seseorang

Kasus: Tukang Sate Ditangkap

Pada tanggal 31 Oktober 2014 #SaveTukangSate, begitulah hastag twitter yang menjadi trending topik dalam tiga hari belakangan. Munculnya gerakan publik di media sosial ini merupakan reaksi atas penahanan seorang buruh kipas sate yang konon melakukan tindakan bullying terhadap Joko Widodo pada saat momentum pemilihan presiden beberapa bulan lalu.
Kita semua sepakat bahwa tindakan bullying apa lagi bermuatan penghinaan dan pencemaran nama baik oleh siapapun dan ditujukan kepada siapapun adalah suatu tindakan yang tidak terpuji dan jauh dari nilai-nilai dan budaya bangsa. Bahkan kalau perlu pelakunya pantas diganjar hukuman pidana untuk memberikan efek jera.
Kita tidak tahu apa motif Hendri Yosodiningrat melaporkan MA(24) ke kepolisian apakah memang ingin menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelaku lain atau merupakan bagian dari skenario pencitraan Bapak Presiden nantinya, kita serahkan kepada yang bersangkutan. Akan tetapi melihat latar belakang fenomena bulliying ini awalnya justru muncul dari relawan pendukung Jokowi, maka penangkapan itu merupakan suatu tindakan yang sangat naif dan ironis.
Menengok ke belakang, fenomonea bullying ini sebenarnya muncul saat Jokowi lagi populer-populernya. Kepepopuleran Jokowi sebagai idola publik baru menggundang berbagai pihak baik pengamat dan tokoh nasional berkomentar mengenai beliau. Tentunya tidak semua tokoh dan pengamat mempunyai pandangan sama dengan publik saat itu. Amin Rais mantan ketua MPR misalnya pernah membuat pernyataan bahwa prestasi Jokowi sebagai Walikota Surakarta hanyalah prestasi semu. Amin berargumen tidak ada indikator yang jelas yang menunjukkan bahwa Jokowi merupakan Walikota berprestasi, kecuali hanya dapat mendapat penghargaan sebagai Walikota terbaik melalui polling online.
Entah dikoordinir atau tidak pernyataan Amin yang menyududutkan Jokowi ini ternyata menuai reaksi publik. Kolom-kolom komentar pembaca media massa online maupun media sosial yang memuat pemberitaan yang berlawanan dengan opini publik ini, hampir seluruhnya penuh dengan kecaman-kecaman bernada sarkastik dan menyudutkan Amin Rais.
Pertarungan sengit antara Jokowi dan Fauzi Bowo pada putaran kedua Pilkada Gubernur DKI 2012 semakin mempersubur fenomena bullying ini khususnya di kolom-kolom komentar media online dan media sosial. Hampir setiap hari kita melihat kolom-kolom komentar media online seperti penuh dengan sumpah serapah, penghinaan, penistaan setiap tokoh atau pengamat yang berkomentar miring terhadap Jokowi. Dan kalau kita memperhatikan tata bahasa, jargon-jargon dan inti pesan yang ingin disampaiakan sepertinya ada sebuah kesengajaan bullyer untuk mendeligitimasi Foke sekaligus meligitimasi Jokowi saat itu. Bahkan tidak jarang kita melihat foto-foto Foke yang diidentikkan dengan Hitler tokoh Nazi Jerman sementara disampingnya Jokowi yang diidentikkan dengan Obama Presiden Amerika.
Rhoma Irama yang saat itu sangat getol menghambat laju Jokowi pun juga tidak luput dari bulliying para pendukung Jokowi dengan konotasi-konotasi yang sangat memiriskan, baik secara verbal maupun non verbal.
Fenomena bulliying para pendukung Jokowi ini berlanjut pada Pilpres 2014. Saat inilah publik terbelalak ketika seorang wanita cantik bernama Kartika Djumadi pada sebuah acara TV Swasta mengakui ia memimpin sebuah komunitas media sosial yang berkegiatan mendukung aktifitas politik Jokowi. Walaupun Kartika tidak mengaku sebagai pihak yang bertanggungjawab atas fenomena bullying selama Pilkada DKI namun merupakan salah satu alibi yang mendukung bahwa aktifitas bulliying di media sosial bermula dari mereka.
Keberadaan Jasmev sebagai buzzer pendukung politik Jokowi ternyata mengundang reaksi politisi partai Gerindra Fadli Zon. Fadli menuding bahwa keberadaan tentara maya di kubu lawan bertanggung jawab atas beredarnya konten-konten negatif atas Prabowo Subianto. Fadli Zon bersama koleganya dari PKS Fahri Hamzah pun tidak dapat mengelak untuk terjun dalam perang opini lewat media sosial. Bahkan kedua politisi ini sendiri malah menjadi korban bulliying, nama Fadli Zon malah lebih sering dibilang Fadli Zonk di kalangan pendukung Jokowi.
Konstalasi inilah yang akhirnya membuat perang terbuka di media sosial pada Pilpres kemarin benar-benar tidak dapat di elakkan. Jika pada Pilkada DKI Foke dan pendukungnya lebih banyak menjadi korban bullying, maka di Pilpres ini kekuatan menjadi seimbang, jadi tidak mengherankan kalau kita melihat foto Prabowo dikonotasikan dengan hewan maka hal yang sama juga terjadi pada Jokowi. Jokowi dalam hal ini bukanlah objek penderita tunggal sebagaimana dialami oleh Foke.
Berdasarkan hal tersebut diatas saya berkesimpulan bahwa tindakan MA sesungguhnya merupakan reaksi bullying yang dikampanyekan pendukung Jokowi sendiri sejak lama. MA memposting foto yang tidak senonoh itu karena pendukung Jokowi juga melakukan hal yang sama kepada tokoh pujaan MA.


Motif dari proses bullying
Awalnya MA adalah pengikut dari kampanye jokowi, di anggota kampanye tersebut ada yang mengedit foto jokowi menjadi hewan dan memposting kemedia sosial. MA juga memposting foto tidak senonoh tersebut karena pendukung jokowi juga melakukan hal yang sama. Dalam hal ini juga seharusnya pihak jokowi juga harus cari tahu dulu siapa yang benar-benar melakukan bullying ini dan MA disini juga ikut-ikutan saja.


Pantaskah Hukuman yang diberikan
Menurut saya hukuman yang diterima pelaku pantas dan tidak pantas. Saya bilang pantas karena pelaku harus mampu mempertanggung jawabkan perbuataannya dan dalam kasus ini juga pelaku dapat mempelajari kesalahannya. Kalau tidak pantasnya seharusnya pelaku yang lainnya juga harus ikut ditangkap jangan hanya MA saja yang ditangkap.



Sumber
http://politik.kompasiana.com/2014/10/31/tukang-sate-ditangkap-naif-dan-ironis-683889.html

About Me

Diberdayakan oleh Blogger.