Senin, 19 Oktober 2015

KEKUASAAN


Kelompok 7 ( Anggur )
-Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
-Gina Permatasari ( 13513737 )
-Sinta Parwati ( 18513504 )
-Yulsafa Tiffany ( 19513585 )
-Muhamad Nurdin (15513753 )

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kekuasaan adalah kemampuan yang mungkin untuk memaksa orang lain. Kekuasaan sangat berkaitan erat dengan wewenang.Perbedaan antara kekuasaan dengan wewenang adalah bahwa setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dapat dinamakan kekuasaan.Sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat.Oleh karena itu, kekuasaan sangat menarik perhatian para ahli ilmu pengetahuan kemasyarakatan.Kekuasaan dapat menciptakan kelas-kelas sosial di masyarakat,adapun yang menciptakan kelas-kelas sosial dan ketimpangan kekuasaan adalah pembagian kerja dalam kegiatan produksi dan hubungan sosial dalam produksi.Kekuasaan senantiasa ada di dalam setiap masyarakat,baik yang masih bersahaja,maupun yang sudah besar atau rumit susunannya.Misalnya,seorang Dosen.Ia mempunyai kekuasaan untuk menyelenggarakan kegiatan kuliah dengan mahasiswanya,kemudian memberikan kuis kepada mahasiswanya,dll.Dari pernyataan di atas,dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap orang memiliki kekuasaan yang berbeda-beda.
Akan tetapi,walaupun selalu ada, kekuasaan tidak dapat dibagi rata kepada semua anggota masyarakat.Justru karena pembagian yang tidak merata tadi timbul makna yang pokok dari kekuasaan,yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Apa definisi dari kekuasaan?
b.      Apa sumber-sumber kekuasaan menurut French dan Raven?

1.3  Tujuan
Dapat memahami dan menjelaskan definisi dari kekuasaan dan sumber-sumber kekuasaan menurut French dan Eaven


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Kekuasaan
Dalam setiap hubungan antarmanusia maupun antar kelompok sosial selalu tersimpul pengertian-pengertian kekuasaan. Untuk sementara pembahasan akan dibatasi dengan kekuasaan, yang diartikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut. Kekuasaan terdapat di semua bidang kehidupan dan dijalankan. Kekuasaan mencakup kemampuan untuk memerintah (agar yang diperintah patuh) dan juga untuk memberi keputusan-keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tindakan-tindakan pihak-pihak lainnya.
Pelopor utama yang menggunakan istilah kekuasaan adalah sosiolog bernama max weber. Dia merumuskan kekuasaan itu sebagai suatu kemungkinan yang membuat seorang aktor di dalam suatu hubungan sosial berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan keinginannya sendiri dan yang menghilangkan halangan.
Walter nord merumuskan kekuasaan itu sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi aliran, energi dan dana yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang berbeda secara jelas dari tujuan laiannya.
Russel mengartikan kekuasaan itu sebagai suatu produksi dari akibat yang di inginkan.
Bierstedt mengatakan bahwa kekuasaan itu kemampuan untuk mempergunakan kekuatan.
Wrong membatasi kekuasaan hanya pada suatu kontrol atas orang lain yang berhasil.
Dahl mengatakan jika orang A mempunyai kekuasaan atas orag B, maka A bisa meminta B untuk melaksanakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan B terhadap A.
Rogers berusaha membuat jelas kekaburan istilah dengan merumuskan kekuasaan sebagai suatu potensi dari suatu pengaruh, dengan demikian kekuasaan adalah suatu sumber yang bisa atau tidak bisa untuk dipergunakan.penggunaan kekuasaan selalu mengakibatkan perubahan dalam kemungkinan bahwa seseorang atau kelompok akan mengangkat suatu perubahan perilaku yang diinginkan.
Angus Stewart hendak menggali ciri-ciri dan peluang konsep kekuasaan yang baru, sebagai alternatif dalam menganalisis kondisi masyarakat (kelompok sosial) dalam ruang dan waktu modernitas akhir. Mula-mula ia telah berhasil telah menujkan perbedaan penting antara konsep kekuasaan dan dominasi (yang sudah mulai berkelindan minimal sejak akhir 1960-an melalui kerja Talcott Pasons, dan melembaga mulai tahun 1970-an melalui kerja antara lain Anthony Giddens dan Michelle Foucault). Kekuasaan dalam bentuk dominasi merupakan wujud dari kekuasaan meliputi sesuatu atau seseorang. Selanjutnya ia merumuskan poitik transformasi pada masa moderenitas akhir saat ini. Ia menunjukan pada adanya konsep ruang publik (public sphere), kewargaan (citizenship), dan gerakan sosial sebagai perwujudan kekuasaan dalam bentuk pemberdayaan. Disini muncul kekukasaan terhadap (power to) sesuatu ata seseorang, yanhg bisa dimiliki lapisn bawah sekalipun.
Kekuasaan mempunyai aneka macam bentuk dan bermacam-macam sumber. Hak milik kebendaan dan kedudukan merupakan sumber kekuasaan. Birokrasi juga merupakan salah satu sumber kekuasaan, di samping kemampuan khusus dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan yang tertentu ataupun atas dasar peraturan-peraturan hukum yang tertentu. Jadi, kekuasaan terdapat di mana-mana, dalam hubungan sosial maupun di dalam organisasi-organisasi sosial. Akan tetapi, pada umumnya kekuasaan yang tertinggi berada pada organisasi yang dinamakan “negara”.
Secara formal negara mempunyai hak untuk melaksanakan kekuasaan tertinggi. Kalau perlu, dengan paksaan. Juga negaralah yang membagi-bagikan kekuasaan yang lebih rendah derajatnya. Itulah yang dinamakan kedaulatan (sovereignity). Kedaulatan biasanya dijalankan oleh segolongan masyarakat kecil masyarakat yang menamakan diri the ruling class, pasti ada yang menjadi pemimpinnya, meskipun menurut hukum dia tidak yang menjadi pemimpinnya, meskipun menurut hukum dia bukan pemegang kekuasaan tertinggi. Misalnya pada negara-negara yang terbentuk kerajaan, sering terlihat kenyataannya bahwa seorang perdana menteri mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari raja dalam menjalankan kedaulatan negara.
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempe
ngaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo, 2003). Studi tentang kekuasaan dan pengaruhnya sangat penting untuk dipahami bagaimana organisasi melakukan aktivitasnya. Sangat memungkinkan untuk melibatkan kekuasaaan (power) dalam setiap interaksi dan hubungan sosial pada organisasi. Orang cenderung untuk mempengaruhi individu lain dan organisasi dalam setiap tindakan atau perilakunya dengan melakukan social influence dan tindakan (Greenberg & Baron, 2000).
Kekuasaan merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi cara  berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang diinginkannya. Kekuasaan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dibedakan menjadi kekuasaan formal dan kekuasaan personal. Kekuasaan biasanya identik dengan politik. Politik sendiri diartikan sebagai upaya untuk ikut berperan serta dalam mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat.
Penyalahgunaan kekuasaan pada dunia politik yang kerap dilakukan oleh pelaku politik menimbulkan pandangan bahwa tujuan utama berpartisipasi politik hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal, pada hakekatnya penggunaan kekuasaan dalam politik bertujuan untuk mengatur kepentingan semua orang yang ada dalam organisasi, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Untuk itu, adanya pembatasan kekuasaan sangat diperlukan agar  tumbuh kepercayaan anggota organisasi terhadap pemegang kekuasaan dan terciptanya keadilan serta kenyamanan dalam kehidupan
Max Weber mendefinisikan kekuasaan sebagai kesempatan yang ada pada seseorang atau sejumlah orang untuk melaksanakan ke­mauannya sendiri dalam suatu tindakan sosial, meskipun mendapat tantangan dari orang lain yang terlibat dalam tindakan itu (Poloma, 1979: 52). Kesempatan (chance atau probability) merupa­kan satu konsep yang sangat inti dalam definisi Weber. Dalam definisi di muka, kesempatan dapat dihubungkan dengan ekonomi, kehormatan, partai politik atau dengan apa saja yang merupakan sumber kekuasaan bagi seseorang. Kesempatan seorang pejabat untuk melaksanakan kemauannya tentu lebih besar dibanding kesempatan seorang petani.
Kekuasaan tidak selamanya berjalan lancar, karena dalam masyarakat pasti ada orang yang tidak setuju atau melakukan perlawanan, baik secara  terbuka atau terselubung, terhadap kekua-saan (Scott, 1990: xii‑xiii). Bahkan menurut Amitai Etzioni, kekuasaan adalah  kemampuan  untuk menga-tasi sebagian atau semua perlawan-an, untuk mengadakan perubah-an‑perubahan pada pihak yang memberikan oposisi (Poloma, 1979).
 Dari dua definisi di atas kita bisa melihat adanya perbedaan pandangan antara Weber dengan Etzioni. Definisi Weber nampaknya lebih netral, sedangkan Etzioni memperlihatkan hubungan yang agak negatif dan kurang diinginkan, karena mereka yang dikuasai merasa kehilangan kebebasan.
 Menurut Etzioni, asset/milik/ modal yang ada pada seseorang (misal uang, benda berharga, kekuatan fisik, dan pengetahuan) dapat dipergunakan oleh pemiliknya untuk menunjang kekuasaan. Asset sering juga disebut kekuasaan potensial atau sumber kekua­saan. Hal ini untuk membedakan dengan kekuasaan aktif yaitu kekuasaan yang sudah dituang dalam bentuk tindakan.
Asset bersifat kurang lebih stabil, sedangkan kekuasaan bersifat dinamik atau prosesual. Gejala kekuasaan adalah menter­jemahkan asset‑asset ini ke dalam kekuasaan. Menterjemahkan asset‑ asset ini ke dalam kekuasaan  akan menghasilkan pelbagai sanksi, imbalan, dan alat‑alat (instrumen) untuk menghukum mereka yang menghalangi dan memberikan fasilitas kepada mereka yang mengikuti kemauannya. Sanksi, imbalan dan alat‑alat ini dapat bersifat fisik, materiil atau simbolik

2.2 Sumber-sumber kekuasaan menurut French dan Raven

John French dan Bertram Raven mengusulkan lima dasar kekuasaan antar pribadi
(interpersonal), yakni :
1.      Kekuasaan Legitimasi, yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi seseorang
karena kedudukannya.
2.      Kekuasaan Imbalan, seseorang memperoleh kekuasaan dari kemampuan untuk memberikan imbalan karena kepatuhan mereka.
3.      Kekuasaan Paksaan, bentuk kekuasaan paksaan ini di
pakai untuk memperoleh pemenuhan akan permintaan atau untuk mengoreksi perilaku tidak produktif dalam organisasi.
4.      Kekuasaan Ahli, seseorang dengan keahlian khusus dinilai mempunyai kekuasaan ahli yang tinggi.
5.      Kekuasaan Referensi, kharisma adalah istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan kepribadian yang menarik.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
·         Kekuasaan didefenisikan sebagai kemampuan memperoleh sesuatu dengan cara yang diinginkan seseorang agar orang lain melakukannya.
·         French dan Raven memperkenalkan gagasan lima dasar kekuasaan antar personal : legitimasi (dasar posisi), penghargaan, pemaksaan (dasar hukuman), ahli dan referensi.
·         Dasar struktural dan kekuasaan situasional juga terdapat. Suatu pengaturan struktur organisasi menetapkan pola komunikasi dan aliran informasi yang memainkan peran penting dalam pembentukan kekuasaan dan penggunaan.
·         Kekuasaan dan pengaruh bisa mengalir dari bawah ke atas suatu organisasi. Karyawan tingkat bawah bisa memiliki kekuasaan secara signifikan karena keahlian, lokasi dan akses serta kendali.


DAFTAR PUSTAKA

Santoso, Thomas, 2010. Kekuasaan dan Kekerasan. Jurnal Masyarakat dan Politik. Volume 14, Nomor 4:89-102
Thoha, Miftah. 2003. Kepemimpinan dalam Suatu Manajemen: Suatu Pendekatan Perilaku. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sorjono Soekanto. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers
Kamanto Sunarto(2004). Pengantar Sosiologi. Jakarta : LP FE-UI
Agusta Ivanovich. (2008). Teori kekuasaan, Teori Sosial, dan Ilmuwan Sosial Indonesia, (online). Vol.02. No.02.
Senin, 12 Oktober 2015

MEMPENGARUHU PERILAKU

Kelompok 7 ANGGUR

Anatasya Gabrilea 10513830
Gina Permatasari 13513737
Muhamad Nurdin 15513753
Sinta Parwati 18513504
Yulsafa Tifanny 19513585


Mata Kuliah: Psikologi Manajemen
Kelas: 3PA06


BAB I
PENDAHULUAN


Tujuan pembahasan ini ialah meninjau secara luas beberapa hal yang terjadi apabila seseorang, yaitu A, bermaksud untuk berkomunikasi dengan orang lain, yaitu B, untuk tujuan tertentu misalnya merubah perilaku B. Marilah kita mulai dengan suatu kode yang jelas. A adalah si pengubah, B adalah orang yang dirubah. Kemudian, kita juga akan membahas masalah sarana dan alat, yaitu model-model untuk mempengaruhi perilaku.


Rumusan Masalah:
1.  Definisi Pengaruh
2. Kunci Perubahan Perilaku
3. Bagaimana Mempengaruhi Orang Lain : Berbagai Model
4. Wewenang



BAB II
PEMBAHASAN


-         Definisi Pengaruh

Mungkin ide yang paling penting di dalam keseluruhan ini ialah bahwa apabila A bermaksud mempengaruhi B, maka sebaiknya ia menyadari bahwa ia sedang melaksanakan tugas emosional sebagai tugas intelektual; bahwa perubahan pada individu, organisasi, masyarakat selalu meliputi komponen yang luas dari emosionalitas. Sebagian besar pendidikan telah mengajarkan agar kita percaya bahwa kita mempengaruhi orang melalui akal sehat,atau sekurang-kurangnya kita harus demikian. Orang harus dibujuk dengan fakta-fakta, dengan bukti, dengan kebenaran. Tetapi suatu pengamatan terhadap kenyataan akan memperlihatkan kepada kita bahwa pada sebagian besar masalah, akal hanyalah merupakan suatu komponen yang kecil saja dari proses. Kebanyakan dari kita menerima atau menolak ide-ide baru atau merubah perilaku kita sebagai hal yang lebih merupakan jawaban terhadap perasaan-perasaan daripada terhadap fakta-fakta. Kita berubah karena ditakuti-takuti atau dirayu atau disayangi atau diancam.
Maka jika kita menyatakan bahwa sebagian besar  perubahan dari pengaruh adalah merupakan proses emosional, kita juga melakukannya tanpa menyesal ataupun tanpa sikap sinis.


-         Kunci Perubahan Perilaku

Kuncinya terletak pada orang yang diubah  sebagian besar pun kekuasaan  yang dimiliki oleh seseorang pengubah, betapapun mungkin “superior” nya ia, orang yang dirubahlah yang menentukan keputusan terakhir untuk berubah. Si karyawanlah, bahkan buruh paling rendah sekalipun, yang paling menentukan apakah ia akan muncul di tempat kerja atau tidak. Orang yang diubahlah yang berubah. A dapat memperguanakan pengaruhnya lebih sedikit atau lebih banyak terhadap situasi A dapat menari-nari dengan girang di depan B; ia dapat membujuk, mengancam dan menghukum, tetapi B lah yang membuat keputusan terakhir tentang apakah ia akan berubah atau tidak. Lagipula, bukan B tetapi justru A lah yang merasakan ketegangan yang kebutuhan-kebutuhannya tak terpuaskan. Maka A lah yang setidak-tidaknya sebagian bergantung kepada B.

Pihak yang diubah harus mempunyai kekuasaan untuk memutuskan apakah ia akan berubah atau tidak akan berubah. A dapat mempengaruhi keputusan tersebut tetapi ia tidak dapat membuatnya. Hal ini disebabkan oleh karena keputusan yang dibuat B merupakan integrasi dari kekuatan-kekuatan yang dibebankan kepadanya oleh A bersama dengan sejumlah besar kekuatan-kekuatan dalam diri B yang tidak dapat dikuasai oleh A.

Bagaimana mempengaruhi orang lain: Berbagai Model

a. Wewenang

Suatu kekuasaan ekstra yang potensial, yang diberikan oleh pihak ketiga (yaitu organisasi) kepada beberapa anggotanya dengan maksud untuk menjamin suatu pembagian kekuasaan yang tidak sama dengan kata lain agar memberikan kepastian bahwa beberapa orang adalah sebagai kepala dan yang lain sebagai bawahan.

b. Taktik Kekuasaan, tekanan dan paksaan

Taktik-taktik kekuasaan yang memaksa sebagai mekanisme pengaruh. Biasanya bergantung kepada pengurangan (atau ancaman pengurangan) terhadap sarana-sarana pemuasan kebutuhan orang lain, disertai dengan suatu tuntutan perubahan perilaku.

c. Manipulasi (model licik untuk mempengaruhi)

Suatu kekuasaan yang perlu dipertanyakan dan bersifat merendahkan diri. Mempengaruhi sesorang atau kelompok dengan tujuan untuk mengubah perilaku atau persepsi orang atau kelompok secara licik.

d. Model kerjasama (mempengaruhi tanpa wewenang atau paksaan)

Sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau tujuan bersama (soekanto, 1990) kerjasama (cooperation) adalah suatu  usaha atau bekerja untuk  suatu hasil  (baron & byane, 2000)

Wewenang

Wewenang  adalah resmi,dapat dilimpahkan kekuasaan yang dipasang pada bahu. Wewenang  adalah kekuasaan yang memasuki hubungan dua pihak melalui organisasi. Wewenang adalah mekanisme memasuki hubungan dua pihak melalui organisasi. Wewenang mekanisme kelembagaan yang bertujuan untuk mana diantara dua anggota suatu hubungan.

a.  Wewenang menurut orang yang memegangnya

Wewenang sungguh-sungguh berguna karena merupakan suatu mekanisme untuk melakukan koordinasi dan pengendalian dalam organisasi. Orang harus disuruh bekerja pada waktunya. Mereka harus menggunakan waktunya untuk lebih baik bekerja ketimbang bercerita atau berada diruang istirahat. Mereka harus melaksanakan kebijaksanaan dan membuat keputusan yang tepat. Mereka harus mengerjakan semua hal ini apabila organisasi ingin cepat maju mencapai tujuan-tujuannya dengan berbagai jenis cara yang terkoordinasi.

b. Wewenang menurut para bawahan

Komunikasi dari bawah sering tidak lancar. Terlalu banyak pekerja yang bersikap bahwa adalah sia-sia bahkan berbahaya untuk “memanjat” menghubungi atasan. Mereka mengelak berkomunikasi dengan atasan karena tiga alasan pokok.
1.     Mereka takut akan otoritas.
2.     Mereka(pekerja) tidak begitu yakin bahwa mereka benar.
3.     Mereka berpikir bahwa resiko untuk berkomunikasi keatasan banyak ruginya daripada untungnya.


BAB III
PENUTUP



Didalam pembahasan ini pusat perhatian telah kita arahkan kepada beberapa aspek umum dari banyak situasi perubahan perilaku. Perubahan adalah suatu proses emosional yang sangat tinggi. Penghargaan itu seharusnya membawa si pengubah kearah memperilakukan logika sebagai sesuatu yang berguna tetapi merupakan alat yang sangat terbatas kekuatannya untuk mengubah.

Wewenang yang resmi adalah suatu jenis kekuasaan yang dapat dilimpahkan. Kekuasaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain mungkin juga berasal dari sumber-sumber lainnya terutama dari keahlian, kepribadian, dan kekayaan si pengubah perilaku.

Wewenang  yang membatasi dilihat oleh para manajer sebagi suatu alat untuk mengkoordinasikan dan mengendalikan. Wewenang yang membatasi mempunyai keuntungan keuntungan karena kesederhanaannya, kecepatannya dan memberikan kepuasan pribadi bagi para pengubah yang sangat berkuasa yang merasa tidak yakin terhadap diri mereka sendiri. Wewenang yang membatasi juga membantu untuk membina suatu derajat yang minimal dari penyesuaian oleh bawahan kepada standar yang ditetapkan oleh atasan.



DAFTAR PUSTAKA

Leavit,J.H. dkk.(1992).Psikologi Manajemen, Alih Bahasa Zarkasi,M.Jakarta: Erlangga
Feinberg, M.R.(1994).Psikologi Manajemen,Alih Bahasa R.Turman.Jakarta: PT Kesaint Blanc Indah Corp
Sari,B.F.(2010).Bentuk Kerjasama(Coorperation) pada interaksi sosial waria. Journal of Universitas Gunadarma
Selasa, 06 Oktober 2015

KOMUNIKASI



Kelompok 7 ANGGUR

Anatasya Gabrilea 10513830
Gina Permatasari 13513737
Muhamad Nurdin 15513753
Sinta Parwati 18513504
Yulsafa Tifanny 19513585


Mata Kuliah: Psikologi Manajemen
Kelas: 3PA06



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernal lepas dari yang namanya komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi secara langsung salah satunya dengan cara bertatap muka dan bertemu secara langsung sedangkan komunikasi tidak langsung bisa melalui perantara orang ketiga yang menyampaikan pesan nanti. Hal itu pasti selalu ada didalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi sifat manusia itu sendiri adalah makhluk social yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri melainkan perlunya interaksi dengan manusia lain. Salah satu bentuk konkrit dari interaksi ini adalah komunikasi tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
a.   Apa pengertian komunikasi menurut para ahli
b.   Ada berapa macam dimensi komunikasi dan jelaskan pengertiannya

1.3 Tujuan
Dapat memahami dan menjelaskan definisi dari komunikasi beserta dimensi-dimensinya yang meliputi Isi, Kebisingan, Jaringan dan Arah.




BAB II
PEMBAHASAN


A.Definisi

Menurut Ruben dan Steward Komunikasi adalah suatu proses mengaitkan individu yang satu dengan individu yang lainnya dalam suatu komunitas, kelompok, organisasi dan masyarakat yang menciptakan dan merespon pesan dengan tujuan beradaptasi dengan lingkungan yang satu dengan lainnya.
Menurut Rogers & O. Lawrence Kincaid Komunikasi merupakan suatu interaksi dimana terdapat dua orang atau lebih yang sedang membangun atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain yang pada akhirnya akan tiba dimana mereka saling memahami dan mengerti.
Menurut COLIN CHERLY Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.
Menurut GERALD R. MILLER Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk mempengaruhi perilaku mereka.
Menurut William F. Glueck (Manajemen) Komunikasi dapat dibagi menjadi dua yaitu Interpersonal Communications dan Organization Communications. Interpersonal Communications adalah proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih dalam kelompok kecil manusia. Sedangkan Organization Communications adalah dimana pembicara secara sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian kepada orang banyak dalam organisasi dan kepada pribadi-pribadi serta lembaga-lembaga di luar yang ada hubungannya.

Menurut perilaku, komunikasi dapat dibedakan menjadi :

1.   Komunikasi formal
Komunikasi yang terjadi diantara anggota organisasi / perusahaan yang tau  caranya telah diatur dalam struktur organisasinya, misalnya rapat kerja   perusahaan, konferensi, seminar dan sebagainya.

2.   Komunikasi informal
Komunikasi yang terjadi di dalam suatu organisasi atau perusahaan yang tidak  ditentukan dalam struktur organisasi dan tidak mendapat pengakuan resmi yang mungkin tidak berpengaruh terhadap kepentingan organisasi atau perusahaan, misalnya kabar burung, desas-desus, dan sebagainya.

3.   Komunikasi nonformal
Komunikasi yang terjadi antara komunikasi yang bersifat formal dan informal, yaitu komunikasi yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan organisasi atau perusahaan dengan kegiatan yang bersifat pribadi anggota organisasi atau perusahaan tersebut, misalnya rapat tentang ulang tahun perusahaan, dan sebagainya.

Maka dapat diketahui bahwa komunikasi formal, informal dan nonformal saling berhubungan, dimana komunikasi nonformal merupakan jembatan antara komunikasi formal dengan komunikasi informal yang dapat memperlancar penyelesaian tugas resmi, serta dapat mengarahkan komunikasi informal kepada komunikasi formal.

Dalam komunikasi terdapat 5 tingkatan komunikasi yaitu sebagai berikut:

1.   Komunikasi massa bisa diartikan sebagai suatu jenis komunikasi yang diperuntukkan pada ruang lingkungan hidup yang lebih luas dari jenis-jenis komunikasi yang ada sebelumnya dan dilakukan melalui sebuah perantara yaitu media cetak maupun media elektronik sehingga pesan yang sama bisa diterima dengan cepat dan serentak.

2.   Komunikasi organisasi bisa dimakna sebagai jenis komunikasi dilakukan untuk memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Komunikasi dapat terjadi dalam penerimaan dan pengirim berbagai informasi organisasi dalam sebuah kelompok informal maupun formal dari sebuah organisasi dengan jumlah anggota relatif sedikit. Jenis komunikasi ini dapat dilakukan dengan lebih dari 2 orang tetapi mempunyai ruang lingkungan hidup yang kecil, dimana setiap individu memiliki pandangan dari setiap informasi yang disampaikan.

3.   Komunikasi antarpribadi bisa dimaknai sebagai jenis komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dengan yang lain secara personal. Jenis komunikasi antarpribadi ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka dua orang namun biasanya tidak dilakukan secara tatap muka.

4.   Komunikasi intrapribadi yaitu suatu jenis komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang seperti proses dalam mengolah informasi melalui sistem sara dan pancaindra manusia. Jenis komunikasi ini dapat dilakukan kepada satu orang saja, misalnya berkomunikasi dengan diri sendiri atau sedang mengkhayal.

Komunikasi yang efektif harus dilaksanakan dengan empat tahap yaitu pengumpulan fakta, perencanaan, komunikasi dan evaluasi.

a.   Pengumpulan FaktaMengumpulkan data dan fakta sebelum seseorang melakukan kegiatan komunikasi.

b.   PerencanaanBerdasarkan fakta dan data itu dibuatkan rencana tentang apa yang akan dibicarakan dan bagaimana mengemukakannya.

c.   KomunikasiSetelah perencanaan disusun maka tahap selanjutnya adalah berkomunikasi.

d.   EvaluasiPenilaian dan analisa diperlukan untuk melihat bagaimana hasil dari komunikasi tersebut.

B. DIMENSI KOMUNIKASI

1.    Dimensi Isi
Dimensi isi disandi secara verbal dan menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan.

2.    Dimensi Arah
Komunikasi dalam konteks ini dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah merupakan satu orang memberikan informasi kepada orang lainnya tanpa ada timbal balik, sedangkan komunikasi dua arah merupakan komunikasi dimana satu orang memberikan informasi ke orang lain, dan orang lain juga memberikan informasi, sehingga terjadi pertukaran informasi diantara keduanya.

3.    Dimensi Kebisingan
Tinggi rendahnya suara yaang terdengar dalam melakukan komunikasi.

4.    Dimensi Jaringan
Sampai sejauh mana seseorang meluaskan jangkauan informasinya dalam melakukan komunikasi diantaranya ada komunikasi yang bergantung pada (jaringan satelit).



BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN

Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar sebagai berikut: pengirim pesan, penerima pesan dan pesan. Semua fungsi manajer melibatkan proses komunikasi. Proses komunikasi dimulai dengan adanya pengirim pesan yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang agar dapat dipahami sesuai apa yang ia sampaikan. Kemudian pesan (informasi) tersebut disampaikan melalui isyarat (simbol), baik verbal (kata-kata) maupun non verbal (bahasa tubuh) melalui media komunikasi langsung (tatap muka), TV, Radio, internet, dll. Setelah pesan diterima melalui indera, maka si penerima mengartikan, atau menterjemahkan agar dapat dipahami olehnya. Setelah pesan tersebut dimengerti, maka ada tanggapan atau isyarat yang berisi pesan dari penerima agar pengirim pesan tahu dampak pesannya terhadap penerima pesan (balikan). Disamping proses komunikasi diatas, juga ada gangguan yang menghalangi suatu proses komunikasi yang akibatnya penerima salah mentafsirkan pesan/isyarat tersebut.Arah komunikasi yaitu bisa secara vertikal (ke atas maupun ke bawah) dan secara horizontal.




DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Heru. 2008. Psikologi Umum.  Jakarta: Universitas Gunadarma
Marnis. 2009. Pengantar Manajemen. Pekanbaru. PT Panca Abdi Nurgama
Stoner, James A.F. 1996. Manajemen. Erlangga: Jakarta
E-JURNAL. PSYCHOLOGYMANIA. September 2013

About Me

Diberdayakan oleh Blogger.