Jumat, 24 April 2015
HUBUNGAN INTERPERSONAL(minggu9)
a. Model-model hubungan interpersonal
Model
pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang
berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya
dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya
(akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
- Model
peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap
orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan
dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role
expectation), tuntutan peranan
(role demands), memiliki ketrampilan (role
skills) dan terhindar dari konflik peranan.
Ekspetasi peranan mengacu pada
kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan
peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu
ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
- Model
permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan
bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan.
Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara
rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman
kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan
kesenangan). Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian
tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari
kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta
perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit
suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
- Model
Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap
sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model
ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
b. Memulai Hubungan
Pembentukan kesan
Menurut sears dkk (1992) individu cenderung membentuk kesan panjang lebar atas
orang lain berdasarkan informasi yang terbatas.
Evaluasi: Kesan pertama. Menurut sears dkk (1992) aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi. Secara formal dimensi evaluatif merupakan dimensi terpenting diantara sejumlah dimensi dasar yang mengorganisasikan kesan gabungan tentang orang lain. Kesan Menyeluruh. Untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang orang lain, dapat dilakukan dari “kesan yang diterima secara keseluruhan”. Sears dkk. (1992) membagi kesan menyeluruh menjadi dua, yaitu model penyamarataan dan model menambahkan. Konsistensi.
Individu cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya, meski hanya memiliki sedikit informasi. Kita cenderung memandang orang lain secara konsisten dari kedalamannya.
Prasangka positif menurut sears (dalam Sears dkk., 1992) adalah kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif.
Evaluasi: Kesan pertama. Menurut sears dkk (1992) aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi. Secara formal dimensi evaluatif merupakan dimensi terpenting diantara sejumlah dimensi dasar yang mengorganisasikan kesan gabungan tentang orang lain. Kesan Menyeluruh. Untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang orang lain, dapat dilakukan dari “kesan yang diterima secara keseluruhan”. Sears dkk. (1992) membagi kesan menyeluruh menjadi dua, yaitu model penyamarataan dan model menambahkan. Konsistensi.
Individu cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya, meski hanya memiliki sedikit informasi. Kita cenderung memandang orang lain secara konsisten dari kedalamannya.
Prasangka positif menurut sears (dalam Sears dkk., 1992) adalah kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif.
Ketertarikan
Interpersonal
Prinsip Dasar Daya Tarik Interpersonal
- Penguatan
Kita menyukai orang lain dengan cara memberi ganjaran sebagai penguatan dari
tindakan atau sikap kita. Salah satu tipe ganjaran yang penting adalah
persetujuan sosial, dan banyak penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung
menyukai orang lain yang cenderung menilai kita secara positif (Sears, 1992).
- Pertukaran sosial
Pandangan ini menyatakan bahwa rasa suka kita kepada orang lain didasarkan pada
penilaian kita terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang kepada
kita. Teori ini menekankan bahwa kita membuat penilaian komparatif, menilai
keuntungan yang kita peroleh dari seseorang dibandingkan dengan keuntungan yang
kita peroleh dari orang lain (Sears dkk., 1992).
- Asosiasi
Kita menjadi suka kepada orang yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan
pengalaman yang baik/bagus dan tidak suka kepada orang yang diasosiasikan
dengan pengalaman buruk/jelek (Clore & Byrne dalam Sears dkk., 1992).
Faktor-faktor yang
mempengaruhinya
- Karakter Pribadi
Daya tarik seseorang
bagi orang lain, pada dasarnya dapat kita bagi menjadi dua hal: yang bersifat
fisik (wajah, rambut, tubuh) dan yang bersifat non fisik (kepribadian,
intelegensi, minat dan hobby), para ahli mengidentifikasikan beberapa karakter
umum yang mempengaruhi rasa suka seseorang kepada orang lain yaitu ketulusan,
kehangatan personal, kompetensi, dan daya tarik fisik.
- Kesamaan
Kita cenderung menyukai
orang yang sama dengan kita dalam sikap, nilai, minat, hoby, latar belakang,
dan kepribadian. Menurut Sears dkk., (1992) dalam hal berpacaran dan
pernikahan, kecenderungan untuk memilih pasangan yang mempunyai kesamaan disebut
sebagai “prinsip kesesuaian” (match principle).
- Keakraban
Menurut Atkinson dkk. (1993) salah satu alasan bahwa kedekatan dapat
menimbulkan rasa senang pada seseorang adalah bahwa kedekatan dapat meningkatkan
keakraban. Fenomena ini oleh Sears dkk. (1992) dapat dijelaskan dengan apa yang
disebut sebagai efek eksposur belaka. Efek ini merupakan suatu fenomena dimana
keseringan berhadapan dengan seseorang dapat meningkatkan rasa suka kita
terhadap orang lain.
- Kedekatan
Menurut Atkinson dkk. (1993) salah satu prediktor terbaik mengenai apakah dua
orang dapat berteman atau tidak adalah seberapa jauh jarak tempat tinggal
mereka. Terdapat tiga faktor yang menghubungkan antara kedekatan daya tarik
interpersonal, yaitu pertama, kedekatan biasanya meningkatkan keakraban. Kedua,
kedekatan sering berkaitan dengan kesamaan. Kita seringkali memilih untuk
tinggal dan bekerja dengan orang lain yang kita kenal, dan selanjutnya
kedekatan geografi kita akan meningkatkan kesamaan kita. Faktor ketiga adalah
bahwa orang yang dekat secara fisik lebih mudah didapat dari pada orang yang
jauh (Sears dkk. 1992).
c. Hubungan Peran
- Model Peran
Terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk
mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan
model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
Secara implicit bermain
peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan
menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini
percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy
mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogy yang diwujudkan dalam
bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil
belajar dari respons orang lain.
Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan
perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain.
Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama
dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan).
Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks
pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran
memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan
kegiatan utama dan integral dari pembelajaran, sedangkan dalam psikodrama,
pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama.
Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada
bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan
yang sangat penting dalam pembelajaran.
Model bermain peran
berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian
ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang
tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang
sedang diperankan. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari
pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya
dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian,
para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara
memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan
dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi
peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional.
Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan
masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai
masalah yang sedang dihadapi.
- Konflik
Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah
intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya.
Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the
presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua
pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah
pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain
sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan
masing-masing.
Substantive conflicts
merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian
sumber dalam suatu organisasi, distrubusi kebijaksanaan serta prosedur serta
pembagaian jabatan pekerjaan. Emotional conflicts terjadi akibat adanya
perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta
adanya pertantangan antar pribadi (personality clashes). Dalam sebuah organisasi, pekerjaan individual maupun
sekelompok pekerja saling berkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika
suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu
diidentifikasikan dengan komunikasi yang tidak efektif yang menjadi kambing
hitam.
- Adequancy peran &
autentisitas dalam hubungan peran
Kecukupan perilaku yang
diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik
secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi (
ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus
lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka
sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
d. Intimacy dan Hubungan
Pribadi
Intimasi dapat dilakukan terhadap teman atau kekasih. Intimasi (elemen
emosional: keakraban, keinginan untuk mendekat, memahami kehangatan,
menghargai, kepercayaan). Intimasi mengandung pengertian sebagai elemen afeksi
yang mendorong individu untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang
yang dicintainya. Dorongan ini menyebabkan individu bergaul lebih akrab,
hangat, menghargai, menghormati, dan mempercayai pasangan yang dicintai,
dibandingkan dengan orang yang tidak dicintai. Mengapa seseorang merasa intim
dengan orang yang dicintai? Hal ini karena masing-masing individu merasa saling
membutuhkan dan melengkapi antara satu dan yang lain dalam segala hal.
Masing-masing merasa tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan kehadiran
pasangan hidup sisinya.
e. Intimacy dan Pertumbuhan
Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama
adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman
berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman
adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng
kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita
pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan
kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai,
dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan
kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana
belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah
penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan
karena (1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh, (2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki
pernikahan, (3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat
dipercaya untuk memegang rahasia, (4) kita dibentuk menjadi orang yang
berkepribadian tertutup, (5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus
. Dalam hal inilah keutamaan cinta dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Wirawan,
Sarlito S. 2002. Individu dan teori-teori psikologi social. Jakarta: Balai
Pustaka
Dayakisni,
Tri. 2006. Psikologi social. Edisi revisi. Malang : Universitas Muhamadiyah
Malang
http://repastrepost.blogspot.com/2013/06/hubungan-interpersonal_1.html
Rabu, 15 April 2015
STRESS(minggu8)
a. Arti penting stress
Stress juga dibutuhkan dalam kehidupan ini, jika
seseorang tidak pernah mengalami stress hidupnya akan hampa, tidak ada yang
namanya tantangan. Stress tidak berarti negatif (distress), stress pun ada yang
bersifat positif (uestress) untuk menyeimbangkan proses kehidupan kita.
Efek-Efek
stress menurut hans selye
Menurut Hans Selye, ahli endokrinologi terkenal di awal
1930 tidak semua jenis stres bersifat merugikan. Berikut adalah beberapa efek
dari stress:
Local Adaptation Syndrom (LAS)
Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap
stress. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka,
akomodasi mata terhadap cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.
Karakteristik dari LAS :
- Respon yang
terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system.
- Respon
bersifat adaptif, diperlukan stressor untuk menstimulasikannya.
- Respon
bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus.
- Respon
bersifat restorative.
Sebenarnya respon LAS ini banyak kita temui dalam
kehidupan kita sehari–hari seperti yang diuraikan dibawah ini :
- Respon
inflamasi
Respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi.
Respon ini memusatkan diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga
penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses penyembuhan dapat berlangsung
cepat.
- Respon refleks
nyeri
Respon ini merupakan respon adaptif yang
bertujuan melindungi tubuh dari kerusakan lebih lanjut. Misalnya mengangkat kaki
ketika bersentuhan dengan benda tajam.
General Adaptation Syndrom (GAS)
GAS merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh
terhadap stres. Respon yang terlibat didalamanya adalah sistem saraf otonom dan
sistem endokrin. Di beberapa buku teks GAS sering disamakan dengan Sistem
Neuroendokrin.
- Fase Alarm
(Waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan
pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis “fight or flight” dan
reaksi fisiologis. Tanda fisik: curah jantung meningkat, peredaran darah
cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan
ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stress memengaruhi denyut
nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun.
Fase alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan
dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah
dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk
meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk
keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan
denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan
ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu
untuk melakukan “respons melawan atau menghindar“. Respon ini bisa
berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih menetap maka individu
akan masuk ke dalam fase resistensi.
- Fase
Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan
psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha
menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh
mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi gejala stress
menurun atau normal, tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung,
tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap
stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel-sel yang rusak. Bila
gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu :
Fase kehabisan tenaga.
- Fase
Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat
tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala
penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental,
penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan,
maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis,
akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk
mepertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian
individu tersbut.
Faktor-faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab
stres
Stress merupakan salah satu gejala yang memiliki
faktor-faktor penyebab, dan akan diuraikan secara singkat faktor individual
& sosial yang menjadi penyebab stress dibawah ini.
a. Faktor sosial
Selain peristiwa penting, ternyata tugas rutin
sehari-hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan
depresi. Dukungan sosial turut mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi
stres. Dukungan sosial mencakup: Dukungan emosional, seperti rasa dikasihi, dukungan nyata, seperti bantuan atau jasa, dan dukungan informasi, misalnya
nasihat dan keterangan mengenai masalah tertentu.
b. Faktor Individual
Tatkala seseorang menjumpai stresor dalam lingkungannya,
ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya
terhadap stresor itu yaitu: Berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi
stresor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).
b. Tipe-tipe stress psikologi
Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis
yaitu:
a) Frustasi
Muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu
tujuan. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha)
dan ekstrinsik (kecelakaan,bencana
alam,kematian,pengangguran,perselingkuhan,dll)
b) Konflik
Ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih
macam keinginan, kebutuhan atau tujuan. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga
bagian yaitu approach-approach conflict,approach-avoidant
conflict,avoidant-avoidant conflict.
c) Tekanan
Tekanan timbul dalam kehidupan sehari-hari dan dapat
berasal dalam diri individu. Tekanan juga dapat berasal dari luar diri individu.
d) Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi individu merasakan kekhawatiran, kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali
mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk.
C. Symptom-Reducing
Responses terhadap stress
Kehidupan akan terus
berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Individu yang mengalami stress tidak
akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap
individu memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya
masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada. Berikut mekanisme
pertahana diri (defense mechanism) yang biasa digunakan individu untuk
dijadiakan strategi saat menghadapi stress:
- Indentifikasi
Identifikasi adalah suatu cara yang digunakan individu
untuk menghadapi orang lain dengan membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin
serupa dan bersifat sama seperti orang lain tersebut. Misalnya seorang
mahasiswa yang menganggap dosen pembimbingnya memiiliki kepribadian yang
menyenangkan, cara bicara yang ramah, dan sebagainya. Maka mahasiswa tersebut
akan meniru dan berperilaku seperti dosennya.
-Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh kepuasan di bidang
tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di bidang lain. Misalnya Andi memiliki
nilai yang buruk dalam bidang Matematika, namun prestasi olah raga yang ia
miliki sangatlah memuaskan.
-Overcompensation/ reaction formation
Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang
tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta
melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama.
Misalnya seorang anak yang ditegur gurunya karena mengobrol saat upacara,
bereaksi dengan menjadi sangat tertib saat melaksanakan upacara dan
menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
-Sublimasi
Sublimasi adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang
peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan
yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima
oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya sifat agresifitas yang
disalurkan menjadi petinju atau tukang potong hewan.
-Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan
sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri atau melemparkan kekurangan
diri sendiri pada orang lain. Mutu proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi.
Contohnya seorang anak tidak menyukai temannya, namun ia berkata temannyalah
yang tidak menyukainya.
-Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam pribadi dirinya
sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seoarang wanita mencintai seorang
pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.
-Reaksi konversi
Secara singkat mengalihkan konflik ke alat tubuh atau
mengembangkan gejala fisik. Misalkan belum belajar saat menjelang bel masuk
ujian, seorang anak wajahnya menjadi pucat dan berkeringat.
-Represi
Represi adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak
dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan
sengaja melupakan. Misalnya seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan
kejadian saat ia dimarahi oleh bosnya tadi siang.
-Supresi
Supresi yaitu menekan konflik, impuls yang tidak dapat
diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang
menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata “Sebaiknya kita tidak
membicarakan hal itu lagi.”
-Denial
Denial adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap
sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya seorang penderita diabetes memakan
semua makanan yang menjadi pantangannya.
-Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku seseorang yang apabila
menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan dengan
lingkunganya. Misalnya artis yang sedang digosipkan berselingkuh, karena malu
maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
-Fantasi
Fantasi adalah apabila seseorang menghadapi
konflik-frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal/berfantasi, misalnya dengan
lamunan. Contoh seorang pria yang tidak memiliki keberanian untuk menyatakan
rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi dirinya dengan orang yang ia cintai.
-Negativisme
Adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan/menentang
otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang
menolak perintah gurunya dengan bolos sekolah.
-Sikap mengkritik orang lain
Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan
kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif (terbuka).
Misalkan seorang karyawan yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu
argument saat rapat berlangsung.
Selain mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk
mengatasi serta mengurangi stress yang timbul karena adanya stressor, individu
dapat juga menggunakan berbagai strategi coping yang spontan untuk mengatasi
stress “minor”.
Coping strategy merupakan
koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit
atau stressor yang dihadapinya. Metode koping bisa diperoleh
dari proses belajar dan beberapa relaksasi. Jika individu menggunaan strategi
koping yang efektif dan cocok dengan stressor yang
dihadapinya, stressor tersebut tidak akan menimbulkan sakit (disease),
tetapi stressor tersebut akan menjadi suatu stimulan yang
memberikan wellness dan prestasi.
Untuk mengatasi stres “minor”, individu dapat melakukan
berbagai macam koping spontan dan sederhana. Tidak perlu memerlukan banyak
biaya dan waktu yang dikorbankan. Stres “minor” merupakan stres yang tidak
terlalu besar pengaruhnya terhadap individu yang merasakannya. Misalnya seperti
kecelakaan, mendapat nilai yang buruk di rapot, telat datang ke kantor, dan
lain sebagainya.
Biasanya jika tingkat stres yang dirasakan individu cukup
parah, peranan obat/medikasi sangat membantu. Namun terlalu banyak mengkonsumsi
obat-obatan di saat stres juga tidak baik pengaruhnya bagi kesehatan fisik.
Ada beberapa teknik terapi yang dicobakan untuk mengatasi
stres. Biofeedbackn adalah suatu teknik untuk mengetahui bagian tubuh
mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini
menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya sebagai feedback atau
umpan balik terhadap bagian tubuh tertentu. Biofeedback kurang
efektif untuk digunakan secara praktis.
Untuk mengatasi stres minor, individu dapat mengatur
istirahat yang cukup dan olah raga yang teratur. Karena cara hidup yang teratur
dapat membuat orang jarang mengalami stres.
Relaksasi dan meditasi juga salah satu cara untuk
mengurang stres “minor”. Dengan merasa rileks, seseorang dapat lebih tajam
untuk mengetahui bagaian tubuh mana yang mengalami stres lalu mengembalikan
kondisi tubuh ke kondisi semula. Selain itu meditasi juga memiliki keuntungan
lain seperti konsentrasi menjadi lebih tajam dan pikira menjadi lebih tenang.
Namun dari semua strategi yang ada, menguah sikap hidup
merupakan strategi yang paling ampuh untuk mengurangi stres yang dirasakan.
Dengan mengubah pikiran negatif menjadi positif orang bisa merasa lebih baik
dalam menghadapi stressornya. Orang juga merasa ikhlas dalam menjalani setiap
masalah yang akan terus ada dalam hidupnya.
Strategi koping yang berhasil mengatasi stres harus
memiliki empat komponen pokok:
-Peningkatan kesadaran terhadap masalah: mengetahui dan memahami
masalah serta teori yang melatarbelakangi situasi yang tengah berlangsung.
-Pengolahan informasi: suatu pendekatan dengan cara
mengalihkan persepsi sehingga ancaman yang ada akan diredam. komponen ini
meliputi pengumulan informasi dan pengkajian sumber daya yang ada untuk
memecahkan masalah.
-Pengubahan perilaku: suatu tindakan yang dipilih secara
sadar dan bersifat positif, yang dapat meringankan, meminimalkan, atau
menghilangkan stressor.
-Resolusi damai: suatu perasaan bahwa situasi telah
berhasil di atasi.
d. Pendekatan
Problem Solving terhadap Stress
Salah satu cara dalam menangani stress yaitu menggunakan
metode biofeddback, tekniknya adalah mengetahui bagian-bagian
tubuh mana yang terkena stress kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini
menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai Feedback.
Melakukan sugesti untuk diri sendiri juga dapat lebih
efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendri. Berikan
sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan
pendekatan secara spiritual (mengarah pada Tuhan).
Meningkatkan Toleransi Stress
Menigkatkan toleransi terhadap stress dengan cara
menigkatkan keterampilan / kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun
psikis, misalnya secara psikis : menyadarkan diri sendiri bahwa stress memang
selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun
dalam bentuk dan intesitas yang berbeda. Secara fisik : mengkonsumsi makanan
dan minuman yang cukup gizi, menonton acara-acara hiburan di televisi,
berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, dan
sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan,
dan Perkembangannya. Yogyakarta: AndiSunaryo. 2002.
Halgin, R.P., Whitbourne, S.K. 2010. Psikologi
abnormal. Jakarta: Salemba Humanika
https://xiaolichen14.wordpress.com/2013/04/26/stress/
Sabtu, 11 April 2015
PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN (minggu7)
a. Penyesuain Diri
Pengertian penyesuain diri
Penyesuain diri merupakan
salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia. Dimana dari mulai lahir
manusia sampai pada akhirnya mereka meninggal mereka akan melakukan yang namanya
penyesuaian diri. Manusia menyesuaikan diri baik dalam lingkungan maupun dalam
diri sendiri untuk bisa beradaptasi dalam lingkungan mereka serta untuk
mengatasi masalah dalam kehidupan kita semua.
Penyesuaian diri (self-adjustment) adalah suatu proses
yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya
memenuhi kebutuhan-kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi, dan konflik
dengan memperhatikan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup (Alexander
Schneiders. 1964:51).
Schneiders juga memandang bahwa penyesuaian diri dapat
ditinjau dari empat sudut pandang yaitu: (1) Penyesuaian diri sebagai adaptasi
(adaptation), (2) Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), (3)
Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery) dan, (4) Perbedaan
individual pada perilaku dan respon yang muncul dari masing-masing individu
dalam menanggapi masalah (individual variation).
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamika yang
bertujuan untuk mengubah tingkah laku agar terjadi hubungan yang selaras antara
dirinya dan lingkungannya. Penyesuaian diri mempunyai dua aspek yaitu
penyesuaian diri pribadi dan penyesuaian diri sosial.
Penyesuaian diri pribadi adalah penyesuaian individu
terhadap dirinya sendiri dan percaya pada diri sendiri. Sedangkan penyesuaian
individu sosial merupakan suatu proses yang terjadi dalam lingkungan social
tempat individu hidup dan berinteraksi dengannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyesuaian Diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri antara
lain (Enung dalam Nofiana, 2010:17):
Faktor Fisiologis. Struktur jasmani merupakan kondisi
yang primer dari tingkah laku yang penting bagi proses penyesuaian diri.
Faktor Psikologis. Banyak faktor psikologis yang
mempengaruhi penyesuaian diri antara lain pengalaman, aktualisasi diri,
frustasi, depresi, dsb.
Konsep penyesuaian diri
Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai
adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh
kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang
memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai
konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip.
Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana
dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi
segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien.
Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup
dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan
emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki
respons emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa
penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri
dan pada lingkungannya.
b. Pertumbuhan Personal
Manusia merupakan makhluk individu. Manusia itu disebut
individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi
mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang
manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan
sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku
spesifik dirinya. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung
terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui
proses yang panjang. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter
atau kepribadian. Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak
faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan
karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak
meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan
atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan
individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun
terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi
pertumbuhan individu.
Pertumbuhan adalah proses yang mencakup pertambahan dalam
jumlah dan ukuran, keluasan dan kedalaman. Prof. Gessel mengatakan, bahwa
pertumbuhan pribadi manusia adalah proses yang terus-menerus. Semua pertumbuhan
terjadi berdasarkan pertumbuhan yang terjadi sebelumnya.
1. Penekanan pertumbuhan, penyesuain diri dan pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai
hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal
pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai
proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang
herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan
berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan
struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
2. Variasi dalam Pertumbuhan
Dalam variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak
semua individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan
usia, pertumbuhan fisik, maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat
rintangan-rintangan yang menyebabkan ketidak berhasilan individu dalam
melakukan penyesuaian, baik rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri.
3. Kondisi-Kondisi untuk Bertumbuh
Kondisi jasmani seperti pembawa atau konstitusi
fisik dan tempramen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya
secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh, kondisi
jasmani dan kondisi pertumbuhan fisik memang sangat mempengaruhi bagaimana
individu dapat menyesuaikan diri nya.
Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi
pertumbuhan personal dalam suatu hubungan : 1. Keikhlasan kemampuan untuk
menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan. 2. Menghormati
keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan 3. Keinginan yang terus menerus
untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan personal :
1. Faktor biologis
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda setiap orang,
kepribadian, atau warisan biologis yang sangat kental.
2. Faktor geografis
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang
dan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
3. Faktor budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting
dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan
kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga.
Selain itu, ada satu hal yang tidak kalah penting
berkaitan dengan penyesuaian diri dan pertumbuhan personal adalah komunikasi.
Dengan kemampuan komunikasi yang baik maka penyesuaian diri dan pertumbuhan
personal seseorang juga akan berjalan baik.
4. Fenomenologi pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai Bapak Psikologi Humanistik). Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33)
Daftar Pustaka
http://www.kajianpustaka.com/2013/01/teori-penyesuaian-diri.html#ixzz2Ul3cqCrv
http://stephanierieny.blogspot.com/2013/03/penyesuaian-diri-dan-pertumbuhan.html
Schneiders, Alexander.
1964. Personal Adjustment and Mental Health. Holt, Rineharr, and Wisnton. New
York
Schultz, Duane. 1991.
Psikologi Pertumbuhan : Model-Model Kepribadian Sehat. Kanisius. Yogyakarta
https://silvinamar.wordpress.com/2013/06/09/1032/
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)
.jpg)
