Sabtu, 28 Maret 2015
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT(lanjutan minggu5)
F. PENDAPAT MASLOW
Konsep Maslow mengenai kesehatan mental meliputi:
1. HIERARKI KEBUTUHAN MANUSIA
Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut.
Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut.
Maslow membuat tingkatan kebutuhan manusia menjadi lima
karakteristik. sebagai berikut:
a. Kebutuhan fisiologis.
b. Kebutuhan akan rasa aman.
c. Kebutuhan social.
d. Kebutuhan akan penghargaan.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri.
2. KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ABRAHAM MASLOW
Dalam teori kepribadian sehat ada beberapa macam point
yang dijabarkan tentang pendekatan maslow terhadap kepribadian. Dimana salah
satunya maslow menyelidiki kesehatan psikologis, dimana satu-satunya orang yang
dipelajari adalah orang yang sehat.
3. PERBEDAAN “meta needs” dengan “deficiency needs”
Meta needs (meta kebutuhan) merupakan
keadaan-keadaan pertumbuhan kearah mana pengaktualisasi-pengaktualisasi diri
bergerak. Maslow juga menyebut kebutuhan tersebut B-values, dan B-values adalah
tujuan dalam dirinya sendiri dan bukan alat untuk mencapai tujuan lain,
keadaan-keadaan ada dan bukan berjuang kearah objek tujuan yang sifatnya
khusus. Apabila keadaan-keadaan ini ada sebagai kebutuhan-kebutuhan dan untuk
memuaskan atau mencapai keadaan tersebut gagal, maka akan menyakitkan, sama
seperti kegagalan untuk memuaskan beberapa kebutuhan yang lebih rendah.
Sedangkan Deficiency needs, suatu kekurangan
kebutuhan dimana individu tak dapat memenuhi kebutuhannya, kebutuhan yang
timbul karena kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan bantuan orang
lain. Deficiency need ini meliputi: kebutuhan jasmaniah, keamanan,
memiliki dan mencintai serta harga diri. Dan sifat-sifat dari deficiency needs
adalah ketiadaannya menimbulkan penyakit, keberadaannya mencegah timbulnya
penyakit, pemulihannya menyembuhkan penyakit, dalam situasi tertentu yang
sangat kompleks dan di mana orang bebas memilih, orang yang
kekurangan kebutuhan akan mengutamakan pemuasan kebutuhan ini
dibandingkan jenis kepuasan yang lain. Serta kebutuhan ini tidak aktif, lemah,
atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat.
4. Ciri-ciri “actualized people”
Ciri dari orang yang mampu mengaktualisasikan diri
(pribadi-pribadi yang sehat) mereka adalah sebagai berikut :
a. Menerima realitas secara tepat
Orang-orang yang sangat sehat mengamati objek-objek dan
orang-orang di dunia sekitarnya secara objektif, teliti terhadap orang lain,
mampu menemukan dengan cepat penipuan dan ketidak jujuran. Mereka bersandar
semata-mata pada keputusan dan persepsi mereka sendiri serta tidak terdapat
pandangan-pandangan yang berat sebelah atau prasangka-prasangka. Kepribadian-kepribadian
yang tidak sehat mengamati dunia menurut ukuran-ukuran subyektif mereka
sendiri, memaksa dunia untuk mencocokannya dengan bentuk ketakutan-ketakutan,
kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai. Semakin objektif kita mampu menggambarkan
kenyataan, maka semakin baik kemampuan kita untuk berpikir secara logis, untuk
mencapai kesimpulan-kesimpulan yang tepat, dan pada umumnya untuk menjadi efisien
secara intelektual. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri dapat mengamati
objek dan orang-orang didunia sekitarnya secara objektif. Mereka tidak
memandang dunia hanya sebagaimana yang mereka inginkan atau butuhkan, tetapi
mereka melihatnya sebagaimana adanya, artinya mereka memandang dunia ini dengan
nyata, apa adanya dan tidak menuntut lebih. Sebaliknya, orang yang
kepribadiannya tidak sehat, mengamati dunia menurut ukuran-ukuran dari
pandangan mereka sendiri, memaksa dunia untuk mencocokannya dengan bentuk
kebutuhan dan nilai-nilai mereka. Maslow menulis bahwa “Orang yang neurotis
secara emosional tidak sakit, tetapi secara kognitif dia salah”.
b. Menerima diri dan orang lain apa adanya
Orang-orang yang mengaktualisasikan diri menerima diri
mereka. Kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatan mereka tanpa keluhan atas
kesusahan. Sesungguhnya, mereka tidak terlampau banyak memikirkannya. Meskipun
individu-individu yang sangat sehat ini memiliki kelemahan–kelemahan atau
cacat-cacat, tetapi mereka tidak merasa malu atau merasa bersalah terhadap
hal-hal tersebut.
Karena orang-orang sehat ini begitu menerima kodrat mereka, maka mereka tidak harus mengubah atau memlsukan diri mereka. Mereka santai dan puas dengan diri mereka dan penerimaan ini berlaku bagi semua tingkat kehidupan.
Sebaliknya, orang-orang neurotis dilumpuhkan oleh perasaan malu atau perasaan salah atas kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan mereka, begitu di hantui sehingga mereka mengalihkan waktu dan energi dari hal-hal yang lebih konstuktif.
Karena orang-orang sehat ini begitu menerima kodrat mereka, maka mereka tidak harus mengubah atau memlsukan diri mereka. Mereka santai dan puas dengan diri mereka dan penerimaan ini berlaku bagi semua tingkat kehidupan.
Sebaliknya, orang-orang neurotis dilumpuhkan oleh perasaan malu atau perasaan salah atas kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan mereka, begitu di hantui sehingga mereka mengalihkan waktu dan energi dari hal-hal yang lebih konstuktif.
c. Bertindak secara spontan dan alamiah, tidak dibuat-buat
Pengaktualisasian diri bertingkah laku secara terbuka dan
langsung tanpa berpura-pura. Kita dapat mengatakan bahwa orang-orang
ini bertingkah laku secara kodrati yakni sesuai dengan kodrat mereka. Dalam situasi
dimana ungkapan perasaan yang wajar dan jujur dapat menyakitkan orang lain,
atau dimana hal tersebut tidak penting, maka untuk sementara mereka mengekang
persaaan-perasaan itu. Jadi, mereka tidak sengaja menjadi tidak konvensional
atau memberontak, mereka tidak mau mencari kesenangan dalam mencemoohkan dengan
sengaja aturan-aturan dan adat-adat social. Akan tetapi dalam situasi di mana menaruh
hormat kepada kebiasaan social mengganggu apa yang dianggap penting oleh
orang-orang yang sehat, mereka tidak ragu menentang kebiasaan tersebut. Lagi
pula mereka sendiri adalah wajar dan sederhana, merasa yakin dan aman, serta
tidak konvensioanal dengan tidak bersikap agresif dan memberontak.
Memusatkan pada masalah-masalah bukan pada perseorangan
Orang yang mengaktualisasikan diri mencintai pekerjaan
mereka dan berpendapat bahwa pekerjaan itu tentu saja cocok untuk mereka.
Pekerjaan mereka adalah sesuatu yang ingin mereka lakukan tentu sesuatu yang
harus mereka lakukan tidak semata-mata suatu pekerjaan untuk mendapat
penghasilan. Mereka tidak melakukan pekerjaan untuk mendapatkan uang, popularitas
atau kekuasaan, tetapi karena pekerjaan itu memuaskan meta kebutuhan. Menantang
dan mengembangakan kemampuan-kemempuan mereka, menyebabkan mereka bertumbuh
sampai pada tingkat potensi mereka yang paling, dan membantu merumuskan
pengertian mereka tentang diri mereka siapa dan apa.
d. Memiliki kekuasaan dan tidak bergantung pada orang lain.
Orang-orang yang mengaktualisasikan diri memiliki suatu
kebutuhan yang kuat untuk pemisahan dan kesunyian. Mereka tidak tergantung pada
orang-orang lain untuk kepuasan mereka dan dengan demikian mungkin mereka
menjauhkan diri dan tidak ramah. Tingkah laku dan perasaan meeka sangat egosentris
dan terarah kepada diri mereka sendiri. Sebaliknya, orang-orang neuorotis
biasanya sangat emosional tergantung pada orang-orang lain untuk kepuasan
dimana mereka tidak mampu menghasilkan untuk diri mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Yustinus Semiun. OFM. 2006. Kesehatan
Mental. Yogyakarta : Kanisius
Siswanto. (2007). Kesehatan mental. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Frank G. Goble, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik
Abraham Maslow, Penerjemah Drs. A. Supratiknya (Yogyakarta: Kanisius, 1994)
Kamis, 19 Maret 2015
TEORI KESEHATAN KEPRIBADIAN(lanjutaan2)
E. Pendapat Rogers
Memahami dan menjelaskan
teori kepribadian sehat menurut rogers yang meliputi:
1. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
“SELF”
Menurut Rogers, manusia yang
sadar dan rasional, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak.
Hal ini tidak menghukum atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan
kecemasan yang tidak dapat kita kontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya
bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa
lampau. Rogers mempunyai konsepsi-konsepsi pokok didalam teorinya, yaitu:
- Organism, yaitu
keseluruhan individu.
- Medan phenomenal, yaitu
keseluruhan pengalaman.
- Self, yaitu bagian
medan phenomenal yang terdeferensiasikan dan terdiri dari
pola-pola pengamatan
dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”.
2. PERANAN POSITIF
REGARD DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN INDIVIDU
Positive regard, suatu
kebutuhan yang memaksa, dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk
mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan
kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau menerima kasih sayang
dan cinta dari orang lain (ibunya), tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan
dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Anak itu akan tumbuh menjadi suatu
kepribadian yang sehat, tergantung pada sejauh manakah kebutuhan
akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
3. CIRI-CIRI ORANG YANG
BERFUNGSI SEPENUHNYA
Hal yang pertama dikemukakan
tentang versi Rogers mengenai kepribadian yang sehat, yakni keribadian yang
sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses,
“suatu arahan bukan suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung terus; tidak
pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Hal kedua dari
aktualisasi diri adalah aktualisasi diri itu merupakan suatu proses yang sukar
dan kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan suatu ujian, rentangan dan
pecutan terus menerus terhadap semua kemampuan seseorang. Hal ketiga tentang
orang-orang yang mengaktualissikan diri, yakni mereka benar-benar adalah diri
mereka sendiri. Mereka tida bersembunyi dibelakang topeng yang berpura-pura
menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunikan sebagian diri mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Yustinus Semiun. OFM.
2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta
: Kanisius
Kamis, 12 Maret 2015
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT(lanjutan)
C. Aliran Humanistik
Ahli-ahli
psikologi humanisik semakin kritis terhadap tradisi-tradisi ini, karena mereka
percaya bahwa behaviorisme dan psikoanalisis memberikan pandangan-pandangan
terbatas tentang kodrat manusia, mengabaikan puncak-puncak yang akan didaki
oleh orang-orang yang memiliki potensi. Tuduhan dari pengeritik-pengeritiki ni
adalah bahwa behaviorisme memperlakukan manusia sebagai suatu mesin “ suatu
sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan
hukum”.
Kepribadian sehat menurut Maslow:
Maslow
berpendapat bahwa seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia
telah mampu untuk mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self actualizing
person). Dia mengemukakan teori motivasi bagi self actualizinga-needs person,
dengan nama metamotivation, meta-needs B-motivation, atau being values
(kebutuhan untuk berkembang). Sementara motivasi bagi orang yang tidak mampu
mengaktualisasikan dirinya dinamai D-motivation atau deficiency.
Di bawah ini ciri-ciri dari metaneeds dan metapologi
· Metanees : Sikap
percaya, bijak dan baik, indah (estetis), kesatuan (menyeluruh), energik dan
optimis, pasti, lengkap, adil dan altruis, berani, sederhana (simple)
· Metapologis
: Tidak percaya, sinis dan skeptic, benci dan memuakkan, vulgar dan mati rasa,
disintegrasi, kehilangan semangat hidup, pasif dan pesimis, kacau dan tidak
dapat diprediksi, tidak lengkap dan tidak tuntas, suka marah-marah, tidak adil
dan egois, rasa tidak aman dan memerlukan bantuan, sangat komplek dan
membingungkan.
Perbedaan kepribadian sehat
menurut aliran Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistik
PSIKOANALISA
Aliran
psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego,
super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini juga mengabaikan potensi yang
dimiliki oleh manusia, selain itu juga berpendapat bahwa manusia adalah makhluk
yang berkeinginan (homo volens). Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia
baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah
disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita
sadari dan tidak kita sadari. Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada
kita sisi yang sakit dari kodrat manusia, karana hanya berpusat pada tingkah
laku yang neuritis dan psikotis. Aliran ini mempelajari kepribadian yang
terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat; atau kebribadian yang
paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik. Jadi, aliran ini
memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai
korban dari tekanan-tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak.
Aliran
ini menyatakan bahwa struktur dasar kepribadian manusia sudah terbentuk pada
usia lima tahun. Freud membagi struktur kepribadian dalam tiga komponen, yaitu id, ego,
dan superego. Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara
ketiga komponen tersebut.Id merupakan sumber dari insting kehidupan
(makan, minum, tidur) dan insting agresif yang menggerakkan tingkah laku. Id berorientasi
pada prinsip kesenangan. Ego sebagai sistem kepribadian yang
terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas. Superegomerupakan
komponen moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakat mengenai
baik-buruk atau benar-salah. Superego berfungsi untuk
merintangi dorongan id, terutama dorongan seksual dan sifat
agresif, juga mendorong ego untuk menggantikan tujuan
realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar kesempurnaan. Secara
umum perilaku manusia bertujuan dan mengarah pada tujuan untuk meredakan
ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan. Kegagalan dalam pemenuhan
kebutuhan seksual mengarah pada perilaku neurosis. Latihan pengalaman dimasa
kanak-kanak berpengaruh penting pada perilaku masa dewasa dan diulangi pada
transferensi selama proses perilaku.
BEHAVIORISME
Aliran
behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu sistem
kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam
pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang
bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas,
kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas. Jadi, manusia
dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara
pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki
diri sendiri.
Behaviorisme
menekankan perspektif psikologi pada tingkah laku manusia, yakni bagaimana
individu dapat memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, dan menjadi
lebih mengetahui. Behaviorisme memandang individu sebagai makhluk reaktif yang
memberi respon terhadap lingkungan, pengalaman, dan pemeliharaan atas bentuk
perilakunya. Tujuan aliran psikologi Behaviorisme adalah mencoba memprediksi
dan mengontrol perilaku manusia sebagai introspeksi dan evaluasi terhadap
tingkah laku yang dapat diamati, bukan pada ranah kesadaran. Hakikat
aliran Behaviorisme adalah teori belajar, bagaimana individu memiliki tingkah
laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Kepribadian
dapat dipahami dengan mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam
hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Menurut B.F. Skinner, cara
efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan
penguatan (reinforcement) dan pemberian hukuman (punishment).
Jadi, yang menjadi prinsip umum dalam aliran Behaviorisme adalam tingkah laku
sebagai objek, refleks atas semua bentuk tingkah laku, dan pembentukan
kebiasaan dalam individu.
HUMANISTIK
Menurut aliran humanistik kepribadian
yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam
dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk
pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai
yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif. Ciri dari kepribadian sehat adalah
mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang
terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah
mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu
memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang
menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas
martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri.
Bagi ahli-ahli psikologi
humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat
mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga
harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara
potensial menghambat. Gambaran ahli psikologi humanistik
tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya
terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan
memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran
Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara
sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi
maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta
mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
D. Pendapat Allport
Menurut
Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat
yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku
menurut prinsip otonomi fungsional.
Tujuh kriteria kematangan ini merupakan pandangan–pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat :
·
Perluasan Perasaan
Diri.
·
Hubungan diri yang
hangat dengan orang–orang lain.
·
Keamanan Emosional.
·
Persepsi realistis.
·
Keterampilan-keterampilan
dan tugas-tugas.
·
Pemahaman diri.
·
Filsafat hidup yang
mempersatukan
Ciri-Ciri
Kepribadian yang Matang Menurut Allport :
Menurut
Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat
yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku
menurut prinsip otonomi fungsional. Kualitas Kepribadian yang matang menurut
allport sebagai berikut:
1. Ekstensi sense of self
· Kemampuan berpartisipasi
dan menikmati kegiatan dalam
jangkauan yang luas.
· Kemampuan diri dan
minat-minatnya dengan orang lain beserta
minat mereka.
· Kemampuan merencanakan
masa depan (harapan dan rencana)
2. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain, Kapasitas
intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion
(pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang)
3. Penerimaan diri
Kemampuan untuk mengatasi
reaksi berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal: mengolah
dorongan seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri, presan proporsional.
4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Kemampuan memandang orang
lain, objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah,
memiliki keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi pelbagai
persoalan tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang merusak.
5. Objektifikasi diri: insight dan humor
Kemampuan diri untuk
objektif dan memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak sekedar
menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat
yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
6. Filsafat Hidup
Ada latar belakang yang
mendasari semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan dan arti. Contohnya
lewat agama. Untuk memahami orang dewasa kita membutuhkan gambaran tujuan dan
aspirasinya. Tidak semua orang dewasa memiliki kedewasaan yang matang. Bisa
saja seseorang melakukan sesuatu hal tanpa tahu apa yang ia lakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Yustinus Semiun. OFM.
2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta : Kanisius
http://evaruspita.blogspot.com/2014/04/teori-kepribadian-sehat-menurut-allport.html
http://gracethelovers.blogspot.com/2012/04/kepribadian-sehat-menurut-humanistik.html
Jumat, 06 Maret 2015
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
A. Aliran Psikoanalisa
Teori psikologi Freud
didasari pada keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis
yang sangat dinamis. Energi psikis inilah yang mendorong individu untuk
bertingkah laku. Menurut psikoanalisis, energi psikis itu berasumsi pada fungsi
psikis yang berbeda yaitu: Id, Ego dan Super Ego.
Kepribadian yang sehat
menurut psikoanalisis:
Menurut freud kepribadian
yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
Kemampuan dalam mengatasi
tekanan dan kecemasan, dengan belajar.
Mental yang sehat ialah
seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego.
Tidak mengalami gangguan dan
penyimpangan pada mentalnya.
Dapat menyesuaikan keadaan
dengan berbagai dorongan dan keinginan.
B. Aliran Behavioristik
Aliran behaviorisme
mempunyai 3 ciri penting:
a. Menekankan pada respon-respon yang
dikondisikan sebagai elemen dari perilaku.
b. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
b. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
c. Memfokuskan pada perilaku binatang.
Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku
binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi
tentang apa yang dilakukan binatang.
Kepribadian yang sehat
menurut behavioristik:
Memberikan respon terhadap
faktor dari luar seperti orang lain dan
lingkungannya.
Bersifat sistematis dan
bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman.
Sangat dipengaruhi oleh
faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri.
Menekankan pada tingkah laku
yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif.
DAFTAR PUSTAKA
Yustinus Semiun. OFM.
2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta
: Kanisius
KESEHATAN MENTAL
A. ORIENTASI KESEHATAN MENTAL
Menurut WHO, kesehatan
mental adalah suatu kondisi ‘sejahtera’ dimana individu dapat merealisasikan kecakapannya,
dapat melakukan coping terhadap tekanan hidup yang normal, bekerja dengan
produktif dan memiliki konstribusi dalam kehidupan di komunitasnya.
Assagioli, (Ihrom, 2008)
mendefinisikan, kesehatan mental adalah terwujudnya integritas kepribadian,
keselarasan dengan jati diri, pertumbuhan ke arah realisasi diri, dan ke arah
hubungan yang sehat dengan orang lain.
Menurut Jahoda (Ihrom,
2008), kesehatan mental mencakup :
a. Sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri,
kemampuan mengenali
diri dengan baik.
b. Pertumbuhan dan perkembangan serta perwujudan diri yang
baik.
c. Keseimbangan mental, kesatuan pandangan dan ketahanan
terhadap
segala tekanan.
d. Otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam
atau
kelakuan-kelakuan bebas.
B. KONSEP SEHAT
Konsep sehat dan kesehatan merupakan dua hal yang
hampir sama tapi berbeda.Konsep sehat menurut Parkins (1938)
adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan
berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977),
sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak
mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan
kelainan.
Pengertian
sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik,
mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Sehat
dapat dikatakan, sesuatu kondisi normal secara emosi (EQ), intelektual (IQ),
spiritual (SQ) dan social. Dari pernyataan diatas sudah didapat tentang dimensi
sehat, berikut pemahamannya:
Fisik
Dikatakan sehat bila secara
fisiologi (fisik) terlihat normal tidak cacat, tidak mudah sakit, tidak
kekurangan sesuatu apapun.
Emosi
Orang yang sehat secara
emosi dapat terlihat dari kestabilan dan kemampuannya mengontrol dan
mengeskripsikan perasaan (marah, sedih, atau senang) secara tidak berlebihan.
Mampu mendisiplinkan diri.
Intelektual
Dikatakan sehat secara
intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik
mampu melihat realitas. Memiliki nalar yang baik dalam memecahkan , masalah
atau mengambil keputusan.
Spiritual
Sementara orang yang sehat
secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa
dengan id mereka secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak
melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa
berfikir rasional.
Sosial
Sehat secara social dapat
dikatakan mereka yang bisa berinteraksi dan berhubungan baik dengan sekitarnya,
serta mampu untuk bekerja sama.
C. Sejarah Perkembangan
Kesehatan Mental
Sejarah
perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang yang
mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri. Mereka mengalami
kecelakaan dan demam yang merusak mental. Jadilah manusia yang dengan rasa putus
asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental. Dengan kesehatan
mental ini kita dapat bandingkan dengan mata uang yang mempunyai dua sisi yang
di sisi satunya sakit dan yang di sisi satunya lagi baik.
Perlu
diketahui disini sejarah tercatat melaporkan berbagai macam interpretasi
mengenai penyakit mental dan cara menghilangkannya. Hal ini disebabkan oleh dua
alasan , yaitu (1) Sifat dari masalah yang disebabkan oleh tingkah laku
abnormal membuatnya menjadi merasa ketakutan. (2) Perkembangan semua ilmu pengetahuan
begitu lambat, dan banyak kemajuan yang sangat penting. Pada masa awal awal
orang yang sakit mental dapat dipahami secara seluruh sering diperlakukan
dengan kurang baik. Di jaman prasejarah pun manusia purba sering kali mengalami
gangguan mental baik fisik maupun gangguan gangguan yang baik. Di jaman
prasejarah ini juga terdapat perawatan-perawatan untuk penyakit gangguan mental
yaitu:
menggosok, menjilat, mengisap dan memotong.
Sejarah
kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karna
masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati
dan terlihat. Hal ini lebih karna mereka sehari-hari hidup bersama sehingga
tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa bukan
lagi sebagai gangguan.
Perkembangan
Kesehatan Mental Pra Ilmiah
1. Masa Animisme
Orang Yunani percaya bahwa
gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk
menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan
mantra dari korban yang mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut
berlangsung mulai dari abad 7-5 SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka
praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit
mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad
pertengahan.
2. Kemunculan Naturalisme
Perubahan sikap terhadap
tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Aliran ini
berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrastes
menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Ide
naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan
pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.
Dalam perkembangan
selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan
orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826)
menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem
penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di
Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniak) dirantai, diikat di
tembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun
atau lebih karena dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar
rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil. Mereka tidak lagi
menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.
Perkembangan
Kesehatan Mental Era Modern
Perubahan yang sangat
berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan
tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi
abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Perkembangan
psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene”
yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge” beserta gerakan-gerakan yang
terorganisir.
Perkembangan kesehatan
mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama
dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham
Beers. Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul.
Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan,
seperti American Social Hygiene
Associatin(ASHA), dan American Federatio for Sex Hygiene.
Perkembangan gerakan-gerakan
di bidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers
(1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental
Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas
dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat
manusiawi.
Pada tahun 1950, organisasi
kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For
Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya
masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health
Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.
Gerakan kesehatan mental ini
terus berkembang sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih
dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya,
gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health
Organization”.
D. Pendekatan
Kesehatan Mental
Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang
umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai
kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang
yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik
artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan
mental.
Orientasi Penyesuaian Diri
Orientasi Penyesuaian Diri
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak
dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena
kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya,
kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi
kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara
individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu
digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat
mental dalam masyarakat lain.
Orientasi
Pengembangan Potensi
Orientasi Pengembangan
Potensi Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia
mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju
kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam
psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam
setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan
tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan.
DAFTAR PUSTAKA
Yustinus Semiun. OFM. 2006. Kesehatan
Mental. Yogyakarta : Kanisius
Siswanto. S. Psi. Msi. 2007. Kesehatan Mental, Konsep, Cakupan dan Perkembangan. Yogyakarta: Andi.
Siswanto. S. Psi. Msi. 2007. Kesehatan Mental, Konsep, Cakupan dan Perkembangan. Yogyakarta: Andi.
Nasrudin, Endin. 2009. Psikologi Agama.
Bandung: Qutub Production
staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/…./kesehatan-mental.pdf
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)
