Sabtu, 26 Desember 2015

REVIEW JURNAL MOTIVASI

Kelompok 7 ( Anggur )
Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
Gina Permatasari ( 13513737 )
Sinta Parwati ( 18513504 )
Yulsafa Tifanny ( 19513585 )
Muhamad Nurdin (15513753 )
Aulia syarafina (17511941)

Mata Kuliah: Psikologi Manajemen

Kelas: 3PA06

Kelompok kami akan mengreview jurnal yang bertemakan “MOTIVASI” dan jurnal yang kami pilih adalah “PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi pada Karyawan Bagian Produksi PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya)”


TUGAS REVIEW JURNAL PSIKOLOGI MANAJEMEN

Jenis Penelitian : Penelitian penjelasan (explanatory research) dengan pendekatan kuantitatif
Nama Penulis  : Aldo Herlambang Gardjito, Mochammad Al Musadieq dan Gunawan Eko Nurtjahjono
Judul Jurnal       : Pengaruh motivasi kerja dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan (Studi pada Karyawan Bagian Produksi PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya)”
Ukuran Jurnal    : Vol. 13 No. 1
Tahun                : Agustus 2014



1.     Latar Belakang

Salah satu faktor yang dapat mendorong meningkatnya produktivitas sumber daya manusia adalah upaya-upaya peningkatan motivasi kerja yang memadai, seperti pemenuhan kebutuhan baik yang bersifat eksternal (pemenuan kebutuhan primer, pangan, sandang, dan papan serta lingkungan yang memadai) dan kebutuhan yang bersifat internal (keinginan karyawan untuk menempatkan dirinya dalam posisi karier yang memuaskan). Disadari bahwa salah satu alasan utama seseorang menjadi karyawan atau bekerja dalam suatu organisasi adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari atau dengan kata lain kebutuhan ekonominya dan kebutuhan berprestasi yang mendapat pengakuan dari masyarakat. Adanya kepastian menerima upah ataupun gaji tersebut secara periodik, berarti ada jaminan “economic security” nya beserta keluarga yang menjadi tanggungannya, demikian pula pada perkembangan kariernya sebagai kebutuhan mengaktulisasi kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Pemberian kesempatan kepada setiap karyawan untuk berkembang, memenuhi kebutuhan-kebutuhannya berdasarkan kemampuan dan kompetensi individu merupakan bagian terpenting dari upaya pemberian pemenuhan kebutuhan bagi karyawan, terutama pada upaya memupuk motivasi kerja karyawan ke arah produktivitas yang lebih tinggi, sebab dengan adanya pemenuhan kebutuhan yang sesuai dengan harapan karyawan, terutama imbalan finansial berupa gaji dan bonus atas prestasi kerja mereka, maka memungkinkan karyawan berkonsentrasi penuh terhadap pekerjannya.

Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kinerja karyawan adalah faktor lingkungan kerja. Menurut Nitisemito (2000:183) lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang di jalankan. Lingkungan kerja yang nyaman bagi karyawannya dapat meningkatkan kinerja. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak memadai akan dapat menurunkan kinerja dan akhirnya menurunkan motivasi kerja karyawan.

PT. Karmand Mitra Andalan merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang chemical berdiri sejak 1988 yang merupakan kelanjutan dari CV. Karya Mandiri dengan lokasi produksi yang berada di kawasan Rungkut Industri Surabaya. Sejalan dengan kondisi tersebut, maka PT. Karmand Mitra Andalan dituntut untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi persaingan, salah satunya adalah dengan memperhatikan faktor tenaga kerja. Permasalahan yang dialami oleh tenaga kerja diantaranya motivasi kerja, penurunan semangat kerja dan penurunan kinerja.

Bagaimana pengaruh motivasi kerja secara parsial dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan. Bagaimana pengaruh lingkungan kerja secara parsial dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan. Bagaimana pengaruh motivasi kerja dan lingkungan kerja secara simultan dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan.

2.     Metode

a. Analisis deskriptif

Analisis deskriptif diperlukan pada variabel-variabel penelitian, tetapi sifatnya sendiri, tidak dikaitkan dengan variabel lain. Berdasarkan variabel tersebut, analisis dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai banyak hal (Umar, 2010:103).

b. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisa model persamaan regresi linier berganda atau Multiple Linear Regression Analysis digunakan untuk meregresikan secara simultan antara variabel bebas atau independent variable dengan variabel terikat atau dependent variable.

Dalam penelitian ini model regresi yang digunakan yaitu :
Y = a + b1X1+ b2X2 + e
Keterangan :
Y = variabel terikat (Kepuasan kerja karyawan)
X1 = variabel bebas (Keselamatan Kerja)
X2 = variabel bebas (Kesehatan Kerja)
a = konstanta
b1, b2 = koefisien regresi

c. Uji F

Untuk melakukan pengujian pengaruh dari variabel-variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat, maka dilakukan dengan menggunakan uji F.

d. Uji t

Uji t ini dilakukan untuk menguji signifikan masing-masing variabel bebas secara parsial atau untuk mengetahui variabel bebas mana yang lebih berpengaruh diantara kedua variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).

3.     Hasil Penelitian

Koefisien korelasi (R) sebesar 0,812; menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara motivasi kerja dan lingkungan kerja terhadap kinerja sebesar 81,2%. Hubungan ini dapat dikategorikan kuat, sebagaimana diketahui bahwa suatu hubungan dikatakan sempurna jika koefisien korelasinya mencapai angka 100% atau 1 (baik dengan angka positif atau negatif).

Hasil analisis regresi linier berganda di atas, dapat diketahui nilai koefisien determinasi (R square) sebesar 0,660. Angka ini menunjukkan bahwa variabel motivasi kerja dan lingkungan kerja dapat menjelaskan variasi atau mampu memberikan kontribusi terhadap variabel kinerja sebesar 66%, sedangkan sisanya sebesar 34% disebabkan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian.

4.     Hipotesis Jurnal

a.     Uji Hipotesis 1

Untuk menguji hipotesis 1 yang menyatakan bahwa motivasi kerja (X1) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) menggunakan uji t. Hasil analisis uji t diperoleh nilai signifikansi t motivasi kerja sebesar 0,000 lebih kecil dari x = 0,5 (0,000 < 0,05), sehingga terbukti variabel motivasi kerja (X1) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Dengan demikian hipotesis pertama secara statistik diterima.

b.     Uji Hipotesis 2

Untuk menguji hipotesis 2 yang menyatakan bahwa lingkungan kerja (X2) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) menggunakan uji t. Hasil analisis uji t diperoleh nilai signifikansi t lingkungan kerja sebesar 0,013 lebih kecil dari x = 0,5 (0,013 < 0,05), sehingga terbukti variabel lingkungan kerja (X2) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Dengan demikian hipotesis kedua secara statistik diterima.

c.      Uji Hipotesis 3

Untuk menguji hipotesis 3 yang menyatakan bahwa motivasi kerja (X1) dan lingkungan kerja (X2) berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja karyawan (Y) menggunakan uji F. Hasil uji F diperoleh nilai signifikansi F sebesar 0,000 lebih kecil dari x = 0,05 (0,000 < 0,05), jadi motivasi kerja dan lingkungan kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, sehingga hipotesis ketiga secara statistik diterima.

5.     Kesimpulan

1. Motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya.

2. Lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya.

3. Motivasi kerja dan lingkungan kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya.

6.     Saran

1. Pimpinan perlu meningkatkan motivasi kerja karyawan agar dapat lebih meningkatkan kinerjanya. Misalnya, dengan cara memotivasi untuk berprestasi dengan memberikan imbalan (di luar gaji) yang sesuai bila prestasi karyawan baik, sehingga karyawan akan merasa dihargai kerjanya.

2. Menanamkan rasa kepercayaan terhadap para karyawan dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengemukakan pendapat yang mungkin akan berguna bagi perusahaan sekaligus memberikan kesan bahwa karyawan diikutsertakan dalam mengelola perusahaan sehingga karyawan merasa ikut memiliki, dengan demikian karyawan akan memiliki loyalitas atau lebih bertanggung jawab terhadap perusahaan.

3. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk meneliti pengaruh lingkungan kerja terhadap motivasi, mengingat lingkungan kerja yang baik dapat memotivasi kerja karyawan sehingga kinerja meningkat.

4. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan pengembangan penelitian dengan menggunakan variabel bebas yang lain seperti kompensasi, kepemimpinan, strees kerja, sehingga dapat memberikan pengaruh lebih baik lagi terhadap kinerja karyawan.



Daftar Pustaka

Alex, Nitisemito. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia, Gema pustaka, Jakarta.

Arida, Ayu. 2010. Jurnal : Pengaruh Motivasi, Lingkungan Kerja dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan. PT. SAI Apparel Semarang.

Husein, Umar. 2010. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kusuma dan Nugraha. 2012. Jurnal : Pengaruh Kompensasi, Lingkungan Kerja, dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Coca-cola Bottling Central Java.

Malthis. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Salemba Empat. Jakarta.

Mangkunegara, A.A Anwar Prabu. 2010. Evaluasi Kinerja SDM. Bandung: PT Revika Aditama.

Sedarmayanti. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit Refika Aditama, Bandung.

Sugito, Hadi. 2005. Pengertian Proses dan Desain Proses Pengembangan SDM. Melalui http://www.hadisugito.fadla.or.id.

Sunarto. 2005 Manajemen Karyawan, Amus, Yogyakarta.


Utomo, Sulistyo. 2010. Jurnal : Pengaruh Motivasi dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan. CV Berkat Cipta Karya Nusantara Surabaya.


Wulan, lucky. 2011. Skripsi: Analisis Pengaruh Motivasi Kerja Dan Lingkungan Kerja terhadap kinerja karyawan. Studi Pada Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Kota Semarang. Universitas Diponegoro Semarang.
Senin, 16 November 2015

Review film TOP SECRET The Billionaire

Kelompok 7 ( Anggur )
Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
Gina Permatasari ( 13513737 )
Sinta Parwati ( 18513504 )
Yulsafa Tifanny ( 19513585 )
Muhamad Nurdin (15513753 )
Aulia syarafina (17511941)

Mata Kuliah: Psikologi Manajemen

Kelas: 3PA06


BAB I

PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG

GTH (GMM Thai Hub) adalah salah satu Rumah Produksi terbesar di Thailand yang banyak menghasilkan film-film yang meraih kesuksesan luar biasa. Tahun ini GTH membuat film remaja bertemakan 'coming of ages' dengan segala permasalahannya. Kali ini film rilisannya terbaru berjudul  The Billionaire/Top Secret yang dibintangi oleh bintang muda Thailand Patchara Chirathivat yang terkenal karena membintangi film SuckSeed.

Top Secret yang dirilis 20 Oktober 2011 ini diangkat berdasarkah kisah nyata tentang seorang pengusaha terkenal bernama Top Ittipat (Top Aitthipat Kulapongvanich, nama lengkapnya) yang mulai membangun usaha berupa perusahaan 'rumput-laut' sejak ia masih remaja. Kemudian usahanya begitu berkembang dengan sangat pesat seiring tahun di seluruh dunia dan menjadikannya seorang Milyuner di usianya yang baru menginjak 27 Tahun


1.2  RUMUSAN MASALAH

1. Siapa saja tokoh yang berperan dalam film The Billionaire?
2. Kapan pertama kali ittipat berniat menjadi pengusaha muda?
3. Teori apa saja yang dipakai untuk materi ini?

1.3  TUJUAN

Dapat mempelajari tentang keberanian seseorang dalam mengambil keputusan, pantang menyerah dan ambisi untuk menjadi pengusaha muda.



BAB II
PEMBAHASAN


Film ini terinspirasi dari kisah sukses seorang pengusaha muda di Thailand Ittipat Kulpongvanit yang memiliki Brand crispy seaweed TAO KAE NOI, produknya TAO KAE NOI yang artinya Pengusaha Muda/Young Entrepreneur tercipta karena ambisinya untuk menjadi pebisnis di usia muda.Ambisi Ittipat bisa dikataan sebagai satu langkah berani, dimana dunia enterpreneurship tidak senyaman seperti kerja kantoran dan penuh resiko, meskipun dengan keuntungan yang besar.
Ittipat memulai bisnisnya di usia 16 Tahun.Saat usia 16, ia adalah seorang pencandu game online.Saat usia 17, Ia putus sekolah untuk menjadi penjual kacang.Saat usia 18, Keluarganya bangkrut & meninggalkan hutang 40 juta Baht.Saat usia 19, Ia menciptakan cemilan rumput laut ‘Tao Kae Noi’ yg dijual di 6.000 cabang 7-ElevenKini, di usia 26, Ia adalah produsen cemilan rumput laut terlaris di Thailand, mempekerjakan 2500 orang karyawan, mengekspor produknya ke 27 negara di dunia. di tahun 2010 ia mencapai pendapatan hingga 1.500 baht.(sekitar 450 milyar), serta telah memiliki perkebunan rumput laut sendiri di Korea Selatan.

ANALISIS FILM SESUAI TEORI MENURUT KELOMPOK:

1. KONDISI: Menurut kelompok kami, sikap Top ini sesuai dengan teori motivasi yang diungkapkan Menurut Wiodkowski (dalam Siregar dan Nara, 2010) Motivasi adalah sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah serta ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Top sendiri dimotivasi oleh kondisi yang terjadi pada keluarganya yang bangkrut dan mempunyai banyak hutang.

2. KEAHLIAN: Menurut Siagian (1989) Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan tenaga dan waktunya untuk menyelanggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai  sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Top juga termotivasi untuk mengeluarkan segala kemampuannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hal tersebut terbukti dengan banyak ide-ide kreatif yang dilakukan oleh Top.

3. PANTANG MENYERAH:tercatat beberapa kali Top mengalami kegagalan dan penipuan, namun ia tidak menyerah dan terus berusaha. Dan Suatu ketika ia berada didalam mobil bersama ayahnya dan baru saja ditipu oleh seseorang, ayahnya berkata “Berjualan itu tidak semudah bermain game. Welcome to the real world”. Dan ternyata semua kegagalan itu membuat Ia menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan selalu mencoba sampai akhirnya meraih impiannya.
4. BERANI.Tidak banyak orang yang memiliki mental seberani Top. Hutang kepada pihak bank untuk memulai usaha, berani mengambil keputusan untuk membeli mesin-mesin yang harganya mahal. Keberanian ini merupakan salah satu kunci terbesar dalam meraih kesuksesan. Berani ini maksudnya adalah Berani untuk Cepat mengambil keputusan, Berani untuk bertindak, Berani untuk Bertindak, Berani untuk Sukses dan Berani juga untuk Gagal.

BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN

Di film ini Top Ittipat, seorang remaja Thailand, mempunyai ambisi yang besar untuk menjadi pengusaha muda. Segala tantangan dihadapinya demi mewujudkan ambisinya itu. Di sini, seakan-akan ingin menyiratkan bahwa remaja Asia pada umumnya juga bisa seperti remaja Amerika sana, yang pantang menyerah. Juga sekaligus menekankan bahwa remaja Asia tidak semuanya “pemalas” dan “lemah”, masih ada sosok seperti “Top Ittipat” lainnya. Dan jika ingin sukses harus ada motivasi dari dalam diri sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

Siregar, E. & Nara, H. (2010) . Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Ghalia Indonesia
Siagian, P. S. (1989). Teori Motivasi dan aplikasinya. Jakarta : PT.Rineka Cipta.


Selasa, 10 November 2015

REVIEW FILM EVEREST

Kelompok 7 ( Anggur )
Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
Gina Permatasari ( 13513737 )
Sinta Parwati ( 18513504 )
Yulsafa Tifanny ( 19513585 )
Muhamad Nurdin (15513753 )
Aulia syarafina (17511941)

Mata Kuliah: Psikologi Manajemen

Kelas: 3PA06



BAB 1
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

Film merupakan karya seni berupa rangkaian gambar hidup yang diputar sehingga menghasilkan sebuah ilusi gambar bergerak yang disajikan sebagai bentuk hiburan. Ilusi dari rangkaian gambar tersebut menghasilkan gerakan kontinyu berupa video. Film sering disebut juga sebagai movie atau moving picture. Film merupakan bentuk seni modern dan populer yang dibuat untuk kepentingan bisnis dan hiburan. Pembuatan film kini sudah menjadi sebuah industri populer di seluruh dunia, dimana film film layar lebar selalu dinantikan kehadirannya di bioskop bioskop.
Film everest merupakan film yang diangkat dari buku Into Thin Air yang ditulis oleh jurnalis Jon Krakauer, film ini juga Kisah yang nyata tahun 1996, dimana saat itu Everest menjadi saksi tewasnya 8 pendaki di pegunungan Himalaya, Nepal.

1.2 Rumusan masalah

1. Siapa saja tokoh yang berperan dalam film everest?
2. Bagaimana perjuangan rob dan kawan-kawan untuk mencapai puncak gunung?
3. Bagaimana tanggung jawab rob kepada kawan-kawan untuk mencapai puncak gunung?
4. Teori apa saja yang termasuk dalam film everest?

Tujuan

Dapat memahami dan mempelajari tentang perjuangan seseorang untuk mencapai puncak gunung, kerjasama dan kesetiakawanan dalam melewati rintangan dan kesetiaan istri terhadap suami.



BAB II
PEMBAHASAN




Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata pada 10 Mei 1996. Kisah ini adalah salah satu tragedi terbesar dalam sejarah pendakian puncak Everest. Kisah yang menelan 12 pendaki tewas diterjang badai salju.

Film Everest juga seperti berniat membuat rekonstruksi ulang sekaligus pemeriksaan terhadap penyebab tragedi 1996 yang menjadi poin utama film ini. Cuaca ekstrem, kondisi beberapa peserta, dan membludaknya jumlah pendaki yang berimbas pada manajemen jalur pendakian dan perlengkapannya, ditekankan sebagai penyebab utama dari tewasnya sejumlah pendaki saat itu. Puncak Everest di Pegunungan Himalaya mempunyai pesona yang sangat mengagumkan sehingga banyak pendaki amatir hingga profesional mempertaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa untuk bisa berada di puncak tertinggi di 8.848 meter di atas permukaan laut.

Rob Hall (Jason Clarke) adalah seorang pendaki profesional yang menjadi pemandu ekspedisi puncak Everest dibawah naungan Adventure Consultans. Ia membuka peluang bagi siapa saja yang ingin mendaki puncak tertinggi di dunia.

Bersama tim yang telah mengenal Everest, Mike Groom (Thomas M. Wright), Ang Dorjee (Ang Phula Sherpa), dan Andy "Harold" Harris (Martin Henderson), Rob membawa klien menuju puncak tertinggi.

Kliennya pun dari berbagai macam profesi mereka adalah Beck Weathers (Josh Brolin), Doug Hansen (John Hawkes), Lou Kasischke (Mark Derwin), Frank Fischbeck (Todd Boyce), Jon Krakauer (Michael Kelly), Yasuko Namba (Naoko Mori), John Taske (Tim Dantay), dan Stuart Hutchison (Demetri Goritsas).

Semua persiapan telah dirampungkan. Cuaca yang cerah dan persiapan yang matang mereka yakin akan berada di puncak tertinggi pada 10 Mei 1996. Pendakian pun dilakukan, halangan dan rintangan bisa dilewati dengan kerjasama dan kesetiakawanan yang erat.

Pendakian dimulai dari Katmandu dan disini kita bisa melihat sekilas dan kebudayaan dan kehidupan masyarakat Nepal. Sebelum mendaki, para pendaki harus di-aklimatisasi terlebih dahulu selama beberapa minggu agar bisa beradaptasi dengan cuaca ekstrim di ketinggian 8.000+ meter di atas permukaan laut, yang bisa menyebabkan hipotermia dan kerusakan organ parah.

Adventure Consultant bukanlah satu-satunya guide komersil disana. Ada banyak guide lain yang ikut tahun ini yang mengakibatkan pendakian kali ini menjadi pendakian teramai. Dua grup yang paling mencolok dipimpin oleh Scott Fischer (Jake Gyllenhaal) dari Amerika dan Anatoli Boukreev (Ingvar Sigordson) dari Rusia yang punya hubungan yang tak terlalu baik dengan Rob.

Rob sadar udara yang cerah, membuat seluruh pendaki dari mancanegara ingin berada di atas pada 10 Mei. Hal ini membuatnya bekerjasama dengan rombongan Scott Fiscer (Jake Gyllenhaal) dari tim Mountain Madness. Dua leader pendaki ini bekerjasama untuk membawa rombongannya naik ke puncak dengan cara dan pola yang berbeda. Untuk melewati maut, leader yang terkenal di Everest ini keduanya saling bergotong royong dan saling percaya.

Rob berhasil membawa rombongannya ke atas puncak kecuali Beck Weathers yang tertinggal karena masalah penglihatan. Berbeda dengan Rob, Scott tidak mampu melewati halangan di berbagi jalur yang ada. Beberapa rombongan ada yang sampai ke puncak namun Scott sendiri terjebak di jalur sempit.

Petualangan berubah menjadi tragedi. Bukan hanya karena perubahan cuaca namun juga dikarenakan human error seperti kurangnya tabung oksigen atau tali pengaman yang putus, yang tidak begitu dijelaskan.

Rob dan Doug harus melewati jalur yang sulit. Kesulitan semakin menjadi jadi saat fisik mereka melemah sedangkan badai mulai datang. Oksigen yang menipis membuat konsentrasi mereka memudar. Berbagai penyakit dalam cuaca dingin pun mereka rasakan. Saat menapaki jalur setapak, Doug tiba-tiba menghilang. Perjuangan Rob mengantarkan Doug tidak terbayar, karena sahabatnya lebih memilih menjatuhkan diri untuk meringankan beban Rob menuju basecamp.

Rob sendirian. Basecamp selaku pusat komando mencari keberadaan sang pemimpin. Adventure Consultans tak ingin sang pemimpin meninggal di atas puncak. Adventure Consultans menghubungi istri Rob. Di momen ini, Rob memberi nama anak perempuannya Sarah lewat sambungan radio.
Everest lebih banyak menunjukan tentang drama ketimbang action. Perbincangan Rob dengan basecamp selaku pusat komando dan sang istri lebih kuat ketimbang aksi mereka ketika mendaki atau turun.


Analisis film sesuai teori menurut kelompok:

Menurut kelompok kami, sikap Rob sebagai leader berhubungan dengan beberapa teori kepemimpinan, yaitu:

a. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling).

b. Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George P. Terry).

c. Kepemimpinan adalah Kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H. Koontz dan C. Donnell).

d. Kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama guna mencapai tujuan tertentu yang diinginkan (Ordway Tead).

e. Kepemimpinan dapat di definisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi (Sarros dan Butchatsky, 1996).

f. Kepemimipinan adalah proses mempengaruhi orang lain agar mampu memahami serta menyetujui apa yang harus dilakukan sekaligus bagaimana melakuannya, termasuk pula proses memfasilitasi upaya individu atau kelompok dalam memenuhi tujuan bersama (Yukl).

g. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Miftah, 1997).


Sikap Rob di film ini sebagai pemimpin menurut kelompok kami sudah cukup baik. Rob bertanggung jawab atas keselamatan anggotanya dan bertanggung jawab atas tujuan yang ingin dicapai. Rob mampu menjadi sosok leader yang mengayomi dan tak pantang menyerah. Sementara itu sosok Scott Fischer memang punya andil dalam pendakian ini.


BAB III
PENUTUP



KESIMPULAN

Dalam film ini kita bisa melihat keindahan Nepal, pegunungan Himalaya dan puncak Everest tersaji dengan sangat indah. Everest diajarkan bagaimana menaik gunung secara profesional. Bukan hanya naik sekedar sampai puncak. Persiapan yang matang dan outfit yang sesuai. Film everest ini juga mengajarkan kita bagaimana cara seseorang untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan tidak mudah banyak rintangan. Film ini juga mengajarkan kita tentang sikap bertanggung jawab seorang pemimpin kepada anggotanya.


DAFTAR PUSTAKA

Sutikno, S. M. (2014). Pemimpin dan Kepemimpinan. Lombok : Holistica

Ali, E. M. (2013). Kepemimpinan Integratif Dalam Konteks Good Governance. Jakarta : PT. Multicerdas Publishing
Selasa, 03 November 2015

LEADERSHIP

Kelompok 7 ( Anggur )
Anatasya Gabrilea ( 10513830 )
Gina Permatasari ( 13513737 )
Sinta Parwati ( 18513504 )
Yulsafa Tifanny ( 19513585 )
Muhamad Nurdin (15513753 )
Aulia syarafina (17511941)

Mata Kuliah: Psikologi Manajemen
Kelas: 3PA06


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kepemimpinan tentu ada seorang pemimpin yang bertugas untuk menjalankan semua kegiatan dalam pengaturan sebuah organisasi atau perusahaan. Kepemimpinan berkaitan dengan kecakapan, sikap, keterampilan dan pengaruh seseorang terhadap apa yang dia pimpin. Pemimpin juga harus memiliki kualifikasi jiwa kepemimpinan yang mampu mempengaruhi orang lain dalam melakukan aktivitas atau kegiatan yang berkaitan dengan tujuan terbentuknya sebuah organisasi tertentu. Pemimpin juga harus memenuhi segala macam kualifikasi yang dibutuhkan, termaksud dalam memberikan contoh yang baik kepada tim atau bawahannya sehingga ia layak disebut sebagai pemimpin.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi leadership?
2. Ada berapa macam teori kepemimpinan partisipatif dan jelaskan?

Tujuan
Dapat memahami dan menjelaskan definisi leadership dan teori kepemimpinan partisipatif menurut dougkes Mx Gregor, Rensit Likert, tannenbaum & Schmidt, Vroom & Yetten, Fiedler dan Konsep path goal theory.


BAB II
PEMBAHASAN


1. Definisi Leadership

Kepemimpinan mempunyai pengertian dan definisi yang berbeda. Para peneliti dan praktisi mendefinisikan kepemimpinan sesuai dengan perspektif perspektif individual dan aspek dari fenomena yang paling menarik perhatian mereka. Sehingga menurut penelitian Bass & Stogdill (dalam Yukl, 1998) mengenai pengertian dan definisi kepemimpinan menyimpulkan bahwa “terdapat hampir sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan jumlah orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep tersebut.” Pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hughes, et all (2002) bahwa perbedaan definisi kepemimpinan karena perbedaan cara meneliti, variasi alat ukur, dan perbedaan aspek kepemimpinan itu sendiri. Sedangkan menurut Yukl (1998) perbedaan tersebut disebabkan oleh berbagai aspek, antara lain: aspek siapa yang menggunakan pengaruh, sasaran yang ingin diperoleh dari pengaruh tersebut, cara bagaimana pengaruh tersebut digunakan, serta hasil dari usaha menggunakan pengaruh tersebut.


2. Teori Kepemimpinan Partisifatif

a. Teori X & Teori Y dari Dougles Mc Gregor
Salah satu model perilaku kepemimpinan adalah Teori X dan Y yang dikemukakan oleh Douglas Mc Gregor. Teori X dan Y didasarkan pada berbagai asumsi tentang para karyawan/pegawai dan bagaimana memotivasi mereka. Berbagai asumsi yang mendasari Teori X dan Y adalah:

Teori X
Teori Y
Karyawan cenderung tidak suka (malas) bekerja, kalau mungkin menghindarinya.
Karyawan suka bekerja.
Karyawan selalu ingin diarahkan.
Karyawan yang memiliki komitmen pada tujuan organisasi akan dapat mengarahkan dan mengendalikan dirinya sendiri.
Manajer harus selalu mengawasi kerja.

Karyawan belajar untuk menerima bahkan mencari tanggung jawab pada saat bekerja.

Asumsi yang dikembangkan Teori X pada dasarnya cenderung negatif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam suatu organisasi adalah gaya kepemimpinan petunjuk (directive leadership style). Gaya kepemimpinan petunjuk sangatlah tepat diterapkan manakala karyawan yang menjadi bawahannya tersebut cenderung pasif, malas bekerja, tidak kreatif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, peran pengarahan yang dilakukan oleh manajer suatu organisasi menjadi sangatlah dominan dan penting bagi kemajuan organisasinya tersebut. Tanpa arahan yang jelas dan baik, kinerja karyawan akan buruk, tugas-tugas pekerjaan yang dibebankan tidak dapat diselesaikan tepat waktu, atau kualitas penyelesaian pekerjaannya rendah.

Sementara itu, asumsi yang dikembangkan dalam Teori Y pada dasarnya cenderung positif dan gaya kepemimpinan yang diterapkannya adalah gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership style). Dalam Teori Y diasumsikan bahwa karyawan cenderung berperilaku positif. Karyawan pada dasarnya memiliki semangat kerja yang tinggi, tidak malas bekerja, ingin kerja mandiri, dan memiliki komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan suatu organisasi. Di samping itu, karyawan juga memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap setiap pekerjaan yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam situasi tersebut adalah gaya kepemimpinan partisipatif dimana para karyawan dilibatkan didalam proses pengambilan keputusan.


b. Teori 4 sistem dari Rensit Likert

Kepimpinan yaitu kepercayaan terhadap bawahan, cara pengambilan keputusan, standar penilaian dan metode pelaksanaan tugas, cara pemimpin memotivasi bawahan, dan pola komunikasi antara pemimpin dengan bawahan. sikap dan tindakan yang dilakukan pemimpin dalam menghadapi bawahan. Ada dua macam gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan.

Dalam gaya yang berorientasi pada tugas ditandai oleh beberapa hal sebagai berikut:
·   Pemimpin memberikan petunjuk kepada bawahan.
·   Pemimpin selalu mengadakan pengawasan secara ketat terhadap bawahan.
· Pemimpin meyakinkan kepada bawahan bahwa tugas-tugas harus dilaksanakan sesuai dengan keinginannya.
·  Pemimpin lebih menekankan kepada pelaksanaan tugas dari pada pembinaan dan pengembangan bawahan.

Gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada karyawan atau bawahan ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut :
ü Pemimpin lebih memberikan motivasi dari pada memberikan pengawasan kepada bawahan.
ü Pemimpin melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan.
ü Pemimpin lebih bersifat kekeluargaan, saling percaya dan kerja sama, saling menghormati di antara sesama anggota kelompok.

Salah satu pendekatan yang dikenal dalam menjalankan gaya kepemimpinan adalah ada empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis Likert 4  sistem tersebut terdiri dari
o   Sistem 1, otoritatif dan eksploitif:
Manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh manajer komunikasi atasan dan bawahan memiliki jarak yang jauh.
o   Sistem 2, otoritatif dan benevolent:Manajer tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebuntuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Informasi mengalir keatas dibatasi untuk manajemen apa yang ingin didengar dan keputusan berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan
o   Sistem 3, konsultatif :
Manajer menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan-keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Keputusan besar datang dari atas sementara ada beberapa lebih luas keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan dari pada ancaman hukuman.
o   Sistem 4, partisipatif:
Sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila manajer secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, manajer tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang baik kelompok manejemen mendorong partipasi dan keterlibatan dalam menetapkan tujuan kinerja yang tinggi.
State university of Michigan studies ( Rensis Likers) dan the managerial grid (blake & mouton). Studi Ohio state university penelitian ini menghasilkan perkembangan dari dua dimensi perilaku kepemimpinan berdasarkan tugas yang disebut dengan struktur prakarsa (initiating structure) dan perilaku pemimpin yang berorientasi pada karyawan yang disebut dengan pertimbangan (consideration) . Initiating structure menyangkut perilaku dimana pemimpin mengorganisir dan mendefinisikan hubungan-hubungan dalam kelompok fokus pemimpin pada tujuan dan hasil. Consideration menyangkut perilaku yang menunjukan persahabatan, saling mempercayai respek serta hubungan antara pemimpin dan bawahan yang kondusif. Pemimpin mendukung komunikasi yang terbuka dan partisipatif. Manajer yang berorientasi pada produk ( production oriented) dan manajer yang berorientasi pada karyawan (employee oriented) dari hasil penelitian ditemukan bahwa manajer yang berorientasi pada produk menetapkan standar kerja yang kaku, mengorganisasikan tugas sampai detail, menentukan metode kerja yang harus di ikuti dan mengawasi kerja karyawan secara ketat. Sedangkan manajer yang berorientasi pada pada karyawan mendorong mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan sasaran dan keputusan lain yang menyangkut pekerjaan serta membantu memastikan prestasi kerja yang tinggi dengan membangkitkan kepercayaan dan penghargaan.


c. Theory of Leadership Pattern Choice dari Tannebowm and Schmidt

Tahun 1957, Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt menulis salah satu artikel yang paling revolusioner yang pernah muncul dalam The Harvard Business Review. Artikel ini, berjudul “Bagaimana Memilih sebuah Pola Kepemimpinan, adalah signifikan dalam bahwa itu menunjukkan gaya kepemimpinan adalah pilihan manajer.

Tujuh “pola kepemimpinan” yang di identifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt.
Pola kepemimpinan ditandai dengan angka-angka di bagian bawah diagram ini mirip dengan gaya kepemimpinan, tetapi definisi dari masing-masing terkait dengan proses pengambilan keputusan. Demokrasi (hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh bawahan.Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin. Perhatikan bahwa sebagai penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis) penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
1) Kepemimpinan Pola 1: “Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan oleh superior.”
Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa sering untuk bertemu.
2) Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta kelompok untuk membuat keputusan.”
Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
3) Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok menunjukkan maka pemimpin membuat keputusan.”
Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
4) Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin tentatif menyajikan keputusan untuk kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok.”
Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Rabu akan menjadi hari yang baik untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
5) Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang pertanyaan.”
Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari Rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka memiliki pertanyaan.
6) Kepemimpinan Pola 6: “Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang benar.”
Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada hari Rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Rabu adalah hari-hari terbaik untuk bertemu.
7) Kepemimpinan Pola 7: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup.”
Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari Rabu apakah mereka suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim.


d. Teori kepemimpinan dari konsep modern choice approach participation yang memuat decicion tree for leadership dari vroom & yetton

Konsep Decision Tree of Leadership dari Vroom & Yetton

Salah satu tugas utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan. Karena keputusan-keputusan yg dilakukan para pemimpin sering kali sangat berdampak kepada para bawahan mereka, maka jelas bahwa komponen utama dari efektifitas pemimpin adalah kemampuan mengambil keputusan yang sangat menentukan keberhasilan melaksanakan tugas-tugas pentingnya. Pemimpin yang mampu membuat keputusan dengan baik akan lebih efektif dalam jangka panjang dibanding dengan mereka yang tidak mampu membuat keputusan dengan baik. Sebagaimana telah kita pahami bahwa partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan dapat meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi stress, dan meningkatkan produktivitas.

Normative Theory dari Vroom and Yetton sebagai berikut :
a.  AI (Autocratic)
Pemimpin memecahkan masalah atau membuat keputusan secara unilateral, menggunakan informasi yang ada.
b.  AII (Autocratic)
Pemimpin memperoleh informasi yang dibutuhkan dari bawahan namun setelah membuat keputusan unilateral.
c.  CI (Consultative)
Pemimpin membagi permasalahan dengan bawahannya secara perorangan, namun setelah itu membuat keputusan secara unilateral.
d. CII (Consultative)
Pemimpin membagi permasalahan dengan bawahannya secara berkelompok dalam rapat, namun setelah itu membuat keputusan secara unilateral.
e.  GII (Group Decision)
Pemimpin membagi permasalahan dengan bawahannya secara berkelompok dalam rapat; Keputusan diperoleh melalui diskusi terhadap konsensus.

Dalam memilih alternatif-alternatif pengambilan keputusan tersebut para pemimpin perlu terlebih dahulu membuat pertanyaan kepada diri sendiri, seperti: apakah kualitas pengambilan keputusan yang tinggi diperlukan, apakah saya memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan yang berkualitas tersebut, apakah permasalahannya telah terstruktur dengan baik. Dalam kaitannya dengan penerimaan keputusan, pemimpin harus bertanya, apakah sangat penting untuk efektifitas implementasi para bawahan menerima keputusan, apakah para bawahan menerima tujuan organisasi yang akan dicapai melalui pemecahan masalah ini.
a) Normative Theory: Rules Designed To Protect Decision Quality (Vroom & Yetton, 1973).
b) Leader Information Rule: Jika kualitas keputusan penting dan anda tidak punya cukup informasi atau ahli untuk memecahkan masalah itu sendiri, eleminasi gaya autucratic.
c) Goal Congruence Rule: Jika kualitas keputusan penting dan bawahan tidak suka untuk membuat keputusan yang benar, aturlah keluar gaya partisipasi tertinggi.
d) Unstructured Problem Rule: Jika kualitas keputusan penting untuk anda kekurangan cukup informasi dan ahli dan masalah ini tidak terstruktur, eliminasi gaya kepemimpinan autocratic.
e) Acceptance Rule: Jika persetujuan dari bawahan adalah krusial untuk implementasi efektif, eliminasi gaya autocratic.
f) Conflict Rule: Jika persetujuan dari bawahan adalah krusial untuk implementasi efektif, dan mereka memegang opini konflik di luar makna pencapaian beberapa sasaran, eliminasi gaya autocratic.
g) Fairness Rule: Jika kualitas keputusan tidak penting, namun pencapaiannya penting, maka gunakan gaya yang paling partisipatif.
h)  Acceptance Priority Rule: Jika persetujuan adalah kritikan dan belum tentu mempunyai hasil dari keputusan autocratic dan jika bawahan tidak termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi, gunakan gaya yang paling partisipatif.

Model ini membantu pemimpin dalam menentukan gaya yang harus dipakai dalam berbagai situasi. Tidak ada satu gaya yang dapat dipakai pada segala situasi. Fokus utama harus pada masalah yang akan dihadapi dan situasi di mana masalah ini terjadi. Gaya kepemimpinan yang digunakan pada satu situasi tidak boleh membatasi gaya yang dipakai dalam situasi lain.

Hal-hal yang harus diperhatikan :
v  Beberapa proses sosial mempengaruhi tingkat partisipasi bawahan dalam pemecahan masalah.
v  Spesifikasi kriteria untuk menilai keefektifan keputusan yang termasuk dalam keefektifan keputusan antara lain: kualitas keputusan, komitmen bawahan, dan pertimbangan waktu.
v  Kerangka untuk menggambarkan perilaku atau gaya pemimpin yang spesifik.
v  Variabel diagnostik utama yang menggambarkan aspek penting dari situasi kepemimpinan.


e. Teori kepemimpinan dari konsep Contingency Theory of Leaderhip dari Fiedler

Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi-situasi yg spesifik. Karena situasi dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh karenanya hanya masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau pendekatan kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Penerimaan kenyataan dasar ini melandasi teori tentang efektifitas pemimpin yang dikembangkan oleh Fiedler, yang menerangkan teorinya sebagai Contingency Approach.

Asumsi dasar adalah bahwa sangat sulit bagi pemimpin untuk mengubah gaya kepemimpinan yang telah membuat ia berhasil, penekanan pada efektifitas dari suatu kelimpok, efektivitas suatu organisasi tegantung pada (is contingent upon), dua variable yang saling berinteraksi yaitu: 1) system motivasi dari pemimpin, 2) tingkat atau keadaan yang menyenangkan dari situasi.

Model kepemimpinan kontijensi Fiedler (1964, 1967) menjelaskan bagaimana situasi menengahi hubungan antara efektivitas kepemimpinan dengan ukuran ciri yang disebut nilai LPC rekan kerja yang paling tidak disukai (Yukl, 2005:251). Fiedler menemukan bahwa tugas pemimpin berorientasi lebih efektif dalam situasi kontrol rendah dan moderat dan hubungan manajer berorientasi lebih efektif dalam situasi kontrol moderat. Fiedler memprediksi bahwa para pemimpin dengan Low LPC yakni mereka yang mengutamakan orientasi pada tugas, akan lebih efektif dibanding para pemimpin yang High LPC, yakni mereka yang mengutamakan orientasi kepada orang/hubungan baik dengan orang apabila kontrol situasinya sangat rendah ataupun sangat tinggi. Sebaliknya para pemimpin dengan High LPC akan lebih efektif dibanding pemimpin dengan Low LPC apabila kontrol situasinya moderat.

Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).

System kepemimpinan dibagi menjadi 3 dimensi:
1) Hubungan pemimpin-pengikut
Pemimpin akan mempunyai lebih banyak kekuasaan dan pengaruh, apabila ia dapat menjalin hubungan yang baik dengan anggota-anggotanya, artinya kalau ia disenangi, dihormati dan dipercaya.
2) Struktur tugas
Bahwa penugasan yang terstruktur baik, jelas, eksplisit, terprogram, akan memungkinkan pemimpin lebih berpengaruh dari pada kalau penugasaan itu kabur, tidak jelas dan tidak terstruktur.
3) Posisi kekuasaan
Pemimpin akan mempunyai kekuasaan dan pengaruh lebih banyak apabila posisinya atau kedudukannya memperkenankan ia memberi hukuman, mengangkat dan memecat, dari pada kalau ia memiliki kedudukan seperti itu.


f. Teori kepemimpinan dari konsep path goal theory
Path Goal theory (teori jalur tujuan) dari kepemimpinan telah dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahannya. Teori ini pertama kali diungkapkan oleh Evans (1970) dan House (1971). House (1971) memformulasikan teori ini dengan versi yang lebih teliti dengan menyertakan variabel situasional. Teori tersebut semakin dimurnikan oleh beberapa penulis seperti Evans (1974); House dan Dessler (1974); House dan Mitchell (1974); dan House (1996).

Konsep Path Goal Theory of Leadership

Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena efek positif yang mereka berikan terhadap motivasi para pengikut, kinerja dan kepuasan. Teori ini dianggap sebagai path-goal karena terfokus pada bagaimana pemimpim mempengaruhi persepsi dari pengikutnya tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalur yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Ivancevich, dkk, 2007:205).
Dasar dari path goal adalah teori motivasi ekspektansi. Teori awal dari path goal menyatakan bahwa pemimpin efektif adalah pemimpin yang bagus dalam memberikan imbalan pada bawahan dan membuat imbalan tersebut dalam satu kesatuan (contingent) dengan pencapaian bawahan terhadap tujuan sepsifik.
Perkembangan awal teori path goal menyebutkan empat gaya perilaku spesifik dari seorang pemimpin meliputi direktif, suportif, partisipatif, dan berorientasi pencapaian dan tiga sikap bawahan meliputi kepuasan kerja, penerimaan terhadap pimpinan, dan harapan mengenai hubungan antara usaha, kinerja, imbalan.

Model kepemimpinan jalur tujuan (path goal) menyatakan pentingnya pengaruh pemimpin terhadap persepsi bawahan mengenai tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalur pencapaian tujuan. Dasar dari model ini adalah teori motivasi eksperimental. Model kepemimpinan ini dipopulerkan oleh Robert House yang berusaha memprediksi ke-efektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi


BAB III
PENUTUP



3.1 KESIMPULAN
Kepemimpinan menurut para peneliti dan praktisi mendefinisikan kepemimpinan sesuai dengan perspektif perspektif individual dan aspek dari fenomena yang paling menarik perhatian mereka. Teori kepemimpinan partisipatif dibagi menjadi enam macam yaitu: Teori X & Teori Y dari Dougles Mc Gregor, Teori 4 sistem dari Rensit Likert, Theory of Leadership Pattern Choice dari Tannebowm and Schmidt, Teori kepemimpinan dari konsep modern choice approach participation yang memuat decicion tree for leadership dari vroom & yetten, Teori kepemimpinan dari konsep Contingency Theory of Leaderhip dari Fiedler dan Teori kepemimpinan dari konsep path goal theory.




DAFTAR PUSTAKA

Ivancevich, dkk. 2007. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga.
Purwanto, D. 2006. Komunikasi Bisnis. Jakarta: PENERBIT ERLANGGA
Kartini Kartono. 1998. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta : PT. Grafindo Persada
Djamaludin Ancok. Hubungan Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional dengan Motivasi Bawahan di Militer. Journal of Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Volume 32. No. 2. Hal: 112-127.

About Me

Diberdayakan oleh Blogger.